Sains & Teknologi Top 7

7 Fakta Mengejutkan pada Gedung Pencakar Langit

Durasi Baca: 7 menit

Gedung pencakar langit mewakili upaya keberanian manusia dalam menantang batas-batas alam.

Pencakar langit adalah ikon dari dunia rekayasa arsitektur . Juga dikenal sebagai “bangunan supertall” atau “kota vertikal,” gedung pencakar langit merupakan bentuk upaya kehebatan dan keberanian manusia dalam menantang batas-batas alam. Dalam prosesnya, terdapat tantangan-tantangan besar yang harus diatasi untuk dapat membangun gedung yang sangat tinggi.

Ada banyak detail tentang gedung pencakar langit yang tetap tersembunyi bagi kebanyakan orang, serta memiliki dampak luas terhadap lingkungan sekitarnya. Dalam daftar ini, mari kita lihat beberapa efek itu dan apa arti pencakar langit bagi kita di masa depan.

1. Seberapa Tinggi Bangunan bisa Dibangun?

X-Seed 4000. Photo credit: CityLab

Sampai sekarang, bangunan tertinggi di dunia adalah gedung pencakar langit Burj Khalifa di Dubai, setinggi 830 meter (2.723 kaki). Namun, gedung lain yang tingginya lebih dari 1 kilometer (0,6 mil) yang disebut Menara Jeddah sedang dibangun di Arab Saudi. Selain itu terdapat juga perencanaan pembangunan gedung pencakar langit di Tokyo setinggi 1.700 meter (5.577 kaki) yang akan dimulai dalam waktu dekat. Di Indonesia, ada perencanaan pembangunan Signature Tower Jakarta, setinggi 638 m, yang digadang menjadi bangunan tertinggi di Asia Tenggara. Lalu muncul pertanyaan, apakah ada batas ketinggian untuk gedung pencakar langit yang bisa dibangun?

Jawaban sederhananya adalah bahwa pada ketinggian tertentu, gedung pencakar langit tidak bisa dibangun. Sebuah bangunan dapat mencapai ketinggian berapapun jika bagian dasarnya cukup lebar untuk menopang struktur diatasnya. Tetapi karena kelengkungan Bumi, baik bagian dasar maupun ketinggian suatu bangunan akan memiliki batas. Namun, titik yang dicapai sekarang masih jauh dari batas itu. Menurut seorang insinyur Burj Khalifa, kita dapat membangun “lebih tinggi dari gunung tertinggi” di dunia. Ini berarti bahwa teknik arsitektur tidak memiliki batasan dalam menciptakan bangunan tinggi. Apabila tantangan dan permasalah terkait jenis material yang digunakan, bentuk struktur, dan faktor iklim terpecahkan, tentu kita bisa membangunnya.

Konsep bangunan paling tinggi yang memungkinkan adalah seperti gambar diatas. Inilah apa yang didefinisikan sebagai “X-Seed 4000”. Suatu gedung pencakar langit tertinggi yang dapat kita bangun dengan teknologi kita saat ini. X-Seed 4000 adalah konseptual gedung pencakar langit setinggi 4 kilometer (2,5 mil) dan dengan diameter 6 kilometer (3,7 mil). Strukturnya yang berbentuk gunung akan memiliki kapasitas untuk menampung hingga satu juta orang di dalamnya. Cetak biru untuk bangunan ini selesai, meskipun sepertinya X-Seed 4000 tidak akan segera dibangun. Masalah dengan gedung pencakar langit ini bukanlah teknologi tetapi biaya konstruksinya sebesar $ 1,4 triliun, jumlah yang sulit dibayar oleh negara mana pun.

2. Gedung Vertikal di Atas Awan

Menara Analemma. Photo credit: Clouds Architecture Office

Normalnya, kita semua tahu bahwa bahwa gedung pencakar langit dibangun pada permukaan tanah. Namun, gedung pencakar langit ini dibangun langsung di langit, di atas awan ! Meskipun gagasan ini nampak mustahil, kemungkinan untuk dibangun pada masa depan masih tinggi. Kantor Arsitektur Awan (Clouds Architecture Office), sebuah perusahaan yang juga bergerak pada proyek transportasi ruang angkasa, telah merumuskan rencana untuk membuat bangunan terapung yang digantung dari asteroid yang sedang mengorbit.

Baca juga:  Tegangan Statis dari Gempa Bumi Masa Lalu dapat Menjelaskan Lokasi Peristiwa Seismik

Merelokasi asteroid untuk membuat mereka mengorbit Bumi bukanlah hal yang mustahil dilakukan. Bahkan, NASA pernah punya rencana untuk mengarahkan ulang asteroid (atau setidaknya sebagian besar) di tahun 2020-an. Dari konsep itu, bangunan terapung akan diikat ke asteroid, yang terletak diketinggian 50.000 kilometer diatas bumi, dengan kabel yang sangat kuat. Pencakar langit, yang disebut Menara Analemma, akan dibentuk dari modul-modul yang dapat secara bertahap ditambahkan ke struktur. Menara ini akan ditenagai oleh panel surya di bagian atas, sementara itu akan mendapatkan air langsung dari awan. Jika dibangun, bagian bawah bangunan akan digunakan untuk area hiburan. Di atas akan menjadi kantor dan daerah perumahan, sedangkan bagian tertinggi akan memiliki kuil dan pemakaman.

Pada ketinggian maksimum 32 kilometer (20 mil), lantai atas akan memiliki jendela yang lebih kecil, karena perbedaan tekanan dengan eksterior. Bangunan yang sudah jadi akan begitu besar sehingga lantai di atas akan memiliki paparan sinar matahari 40 menit lebih lama daripada lantai terendah, karena kelengkungan Bumi . Meskipun bangunan terapung ini akan bergerak dan berpindah ke banyak negara, ada kemungkinan versi awal gedung pencakar langit akan dibangun di Dubai, karena biaya konstruksi yang lebih rendah daripada di daerah lain.

3. Pencakar Langit Dalam Tanah

Photo credit: BNKR Arquitectura

Bangunan besar tidak harus dibangun di permukaan bumi atau di atas awan. Mereka juga dapat dibangun di bawah tanah dan oleh karena itu disebut “Earthscrapers.” Jenis bangunan ini persis kebalikan dari gedung pencakar langit konvensional, karena merupakan struktur yang meluas ke kedalaman perut bumi. Ukurannya yang besar dapat menampung seluruh komunitas.

Suatu kasus di Mexico City, dimana terdapat regulasi yang membatasi ketinggian suatu bangunan baru di pusat bersejarah hingga maksimum delapan lantai, hal ini membuat sebuah perusahaan BNKR Arquitectura membuat rancangan Earthscraper di bawah alun-alun pusat kota. Bangunan bawah tanah akan setinggi 65 lantai, dan strukturnya akan menyerupai piramida terbalik. Pusat bangunan akan berlubang untuk memungkinkan ventilasi lantai dan taman yang berada di bawah permukaan. Bagian tertinggi akan ditutupi oleh lapisan kaca, dengan lantai persegi. Dengan cara ini, Earthscraper dapat berinteraksi dengan bagian kota lainnya di permukaan.

Sementara itu, para ahli dari Universitas Washington di St. Louis memiliki ide untuk membangun sebuah Earthscraper di Tambang Lavender yang ditinggalkan Arizona. Gedung pencakar langit bawah tanah ini akan mencapai kedalaman 274 meter (900 kaki) dari tambang dan memiliki segalanya mulai dari rumah tinggal hingga area kerja. Bagian atas Earthscraper akan ditutup oleh kubah dengan skylight, yang akan berbaur dengan lingkungan sekitarnya.

Baca juga:  Tegangan Statis dari Gempa Bumi Masa Lalu dapat Menjelaskan Lokasi Peristiwa Seismik

4. Oceanscraper

Photo credit: Vincent Callebaut

Selain dibangun pada permukaan tanah, dalam tanah, dan diatas awan. Membangun gedung pencakar langit bisa dilakukan di atas air, yang dinamakan Oceanscraper. Meskipun belum pernah direalisasikan hingga saat ini, pembangunan Oceanscraper diperkirakan akan meningkat pesat dalam waktu dekat, sehingga bangunan ini bisa menjadi sangat berguna. Banyak proyek arsitektural yang mencoba mendesain Oceanscraper dari waktu ke waktu, tetapi ada yang baru-baru ini paling menonjol adalah : Aequorea.

Oceanscraper Aequorea adalah proyek yang didesain oleh arsitek Vincent Callebaut, untuk menyelesaikan masalah sampah yang terakumulasi di lautan. Menurutnya, Aequorea akan muncul pada tahun 2065. Pada saat itu, manusia mengumpulkan plastik dan limbah lain yang tersebar di laut dan mencampurnya dengan emulsi ganggang, sehingga menciptakan bahan lunak dalam bentuk filamen. Kemudian, dengan menggunakan printer 3-D raksasa, oceanscraper seperti Aequorea dibuat dengan bahan ini. 

Bangunan futuristik ini akan berdiameter 500 meter (1.640 kaki) dan membentang sedalam 1 kilometer (0,6 mil), dengan kapasitas untuk 20.000 orang. Sebagian besar struktur akan berada di bawah air, seperti gunung es, dan akan memiliki tentakel raksasa yang akan membuatnya stabil ketika dilanda angin kencang. Kebun hidroponik menutupi bangunan, sementara makanan dan sumber daya lainnya diperoleh langsung dari sekitar struktur, membuat Aequorea mandiri.

5. Pencakar Langit bisa Menimbulkan Gempa

Taipei Tower. Pexels.

Sudah terbukti bahwa getaran gempa tidak hanya disebabkan oleh peristiwa geologis, seperti pergeseran tektonik. Mereka juga dapat disebabkan oleh tindakan manusia dalam skala besar, seperti pertambangan atau ledakan nuklir . Tapi yang tidak biasa adalah gempa bumi yang disebabkan oleh gedung pencakar langit.

Taipei 101 adalah gedung pencakar langit setinggi 508 meter (1.667 kaki) yang terletak di Taiwan. Sebelum Taipei 101 selesai pada 2003, area tempat gedung pencakar langit itu bebas dari gempa bumi. Tetapi bahkan selama pembangunannya, jumlah tremor kecil (disebut gempa mikro) meningkat tiga kali lipat. Kemudian, pada 2004, gempa berkekuatan 3,8 terjadi tepat di bawah Taipei 101. Beberapa bulan kemudian, gempa berkekuatan 3,2 lainnya terjadi di titik yang sama di bawah gedung.

Saat dibangun, material yang lebih berat digunakan untuk membuat menara Taipei 101 menjadi tahan gempa. Massa bangunan sebesar 700.000 ton itu malah menghasilkan tekanan besar pada kerak bumi di bawahnya. Setelah pencakar langit ini selesai, tekanan ini menyebar ke seluruh area dan memicu gempa bumi. Setelah peristiwa ini, para ahli mempercaya hal-hal ini harus menjadi pertimbangan serius ketika merancang bangunan tinggi.

6. Beberapa Pencakar Langit dapat Membakarmu

Photo credit: © User:Colin/Wikimedia Commons/CC BY-SA-4.0

Terkadang desain bangunan secara tidak sengaja dapat mengubahnya menjadi senjata semacam oven microwave yang mampu menimbulkan luka serius pada orang.

Pencakar langit “Walkie-Talkie” di pusat kota London memiliki permukaan melengkung dan cekung di satu sisi. Sehingga saat sinar matahari memantul di sisi itu, jendelanya memusatkan cahaya menjadi sinar yang sangat kuat. Ibaratnya sama dengan kaca pembesar raksasa. Dan hasilnya, sinar itu mampu memanaskan hingga suhu setinggi 117 derajat Celcius

Pada tahun 2013, sebuah mobil beberapa bagiannya benar-benar meleleh setelah parkir di sebelah gedung Walkie-Talkie. Bahkan seorang jurnalis mengatakan bisa menggoreng telur di bawah “sinar panas” pantulan dari gedung. Seseorang yang berdiri sebentar di bawah sinar itu dapat membuat rambutnya hangus. Akibatnya, pencakar langit itu lalu dikenal sebagai “Walkie Scorchie” atau “Fryscraper.” Untungnya, pada tahun 2014, gedung itu ditambahkan dengan struktur penghalang sinar, untuk menghilangkan cahaya yang dipantulkan. Jadi sekarang pejalan kaki bisa lebih tenang ketika berjalan di bawah Walkie-Talkie.

Baca juga:  Tegangan Statis dari Gempa Bumi Masa Lalu dapat Menjelaskan Lokasi Peristiwa Seismik

Kasus serupa terjadi juga di The Vdara Hotel, Las Vegas, yang dibangun oleh arsitek yang sama dengan menara Walkie-Talkie, juga memiliki cacat desain yang sama, dengan jendela yang memusatkan sinar matahari. Dalam hal ini, “sinar kematian” diarahkan langsung ke area kolam, sehingga banyak wisatawan di hotel menderita luka bakar kulit yang serius saat berada di dalam air. Pada akhirnya, perusahaan perhotelan menyelesaikan masalah dengan menempatkan payung raksasa di atas kolam.

7. Tinggal Di Pencakar Langit Lebih Cepat Tua

Apakah seseorang yang tinggal di gedung pencakar langit ada dampak fisik yang ditimbulkan? Faktanya, ya, seseorang menua lebih cepat dengan tinggal di atas sebuah bangunan. Ini terjadi karena fenomena fisik luar biasa yang disebut pelebaran waktu gravitasi. Karena fenomena ini, ketika kita menjauh dari benda dengan massa besar, seperti Bumi, waktu berjalan lebih cepat bagi kita. Tapi seberapa cepat kita akan menua ?

Pada paruh kedua abad ke-20, sebuah proyek bernama Temps Atomique International diluncurkan. Jam atom ditempatkan di berbagai wilayah di dunia, pada ketinggian yang berbeda, untuk mengukur waktu global secara akurat. Pada tahun 1970-an, disimpulkan bahwa pada ketinggian 30 meter, waktu berjalan satu picosecond (satu triliun per detik) lebih cepat daripada di permukaan laut. Sekarang anggaplah rata-rata harapan hidup seseorang adalah 70 tahun. Jika kita menghitung, pada ketinggian 30 meter, seseorang akan berusia dua milidetik lebih cepat pada akhir hidupnya.

Pada tahun 1976, SAO Institute di Cambridge meluncurkan roket yang membawa jam hingga ketinggian 9.656 kilometer. Ketika jam kembali ke Bumi dan dianalisis, diamati bahwa waktu pada ketinggian itu bergerak satu detik lebih cepat setiap 70 tahun. Jelas, hal yang sama berlaku untuk seseorang.

Jadi apa artinya ini dengan kata-kata sederhana? Nah, seseorang yang hidup sepanjang hidupnya di gedung pencakar langit akan menua beberapa detik lebih cepat daripada seseorang di permukaan tanah. Tentu saja, perbedaan usia antara kedua orang ini tidak akan terlihat. Tetapi kita telah melihat bahwa gedung pencakar langit dibangun dengan berlomba ketinggian. Karena dibangun lebih tinggi di masa depan, maka perbedaan usia akan menjadi lebih besar.

    Like
    Like Love Haha Wow Sad Angry

    Leave a Reply