Kesehatan Top 7

7 Parasit Dan Patogen ini Mengontrol Pikiran Manusia Sebagai Inangnya

Parasit dan patogen adalah sesuatu yang cukup menakutkan. Sistem kekebalan manusia berfungsi membentuk pertahanan tubuh terhadap serangan makhluk kecil yang sulit ditangkap ini. 

Saat ini, parasit dan patogen telah mengembangkan beberapa cara yang cukup menarik untuk berkembang biak dan / atau beralih ke tahap selanjutnya dari siklus hidup mereka — termasuk membajak pikiran dari inangnya, manusia. Penyerang tubuh ini mengontrol perilaku inang mereka, memaksa mereka secara halus untuk melakukan tindakan yang akan menghasilkan kesempatan bagi mereka untuk menyebar atau bereproduksi. Berikut adalah 7 jenis parasit dan patogen yang mengendalikan pikiran manusia versi kafekepo.com

1. Influenza

Ilmu pengetahuan mempelajari hal-hal baru tentang perilaku manusia, termasuk di dalam dunia vaksin saat ini, tentang bagaimana manusia merespons vaksin tersebut. Dalam suatu penelitian ditemukan, bahwa vaksin flu meningkatkan kemungkinan manusia menjadi lebih bersosialisasi. Dan yang lebih menarik lagi, penelitian telah mencatat bahwa flu menyebar melalui jaringan sosial (dalam kehidupan nyata, bukan online). Dengan siapa kamu bergaul mungkin menjadi faktor penentu apakah kamu bakal tertular satu penyakit atau tidak.

Tetapi selain vaksin, virus influenza juga membajak pikiran inangnya secara halus, menghasilkan fenomena yang sama dengan orang yang menerima vaksin. Flu itu sendiri membuat orang ingin menjadi lebih bersosialisasi. Ini masuk akal, karena cara sempurna bagi virus untuk menyebar ke orang lain dari inang adalah dengan interaksi sosial. Meskipun mekanismenya belum jelas, dipercayai bahwa orang-orang yang terkena flu menjadi lebih tertarik untuk berinteraksi sosial.

2. Malaria

Parasit malaria adalah salah satu penyakit paling brutal dan tak kenal ampun sepanjang masa. Parasit malaria juga memiliki salah satu siklus hidup yang paling menarik. Parasit malaria sebagian besar ditularkan melalui gigitan nyamuk. Siklus dimulai ketika nyamuk betina menggigit seseorang yang terkena parasit malaria, maka parasit masuk ke dalam tubuh nyamuk. Lalu nyamuk itu menggigit orang lain, dan menyebarkannya kepada mereka. Cukup mudah. Spesies nyamuk   Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax, dua dari lima spesies Plasmodium yang menyebabkan malaria pada manusia. Parasit malaria menghabiskan sebagian dari siklus hidup mereka pada manusia dan sebagian lain pada nyamuk.

Malaria juga sangat bergantung pada gula, zat utama dari makanan nyamuk, untuk menyelesaikan siklus hidupnya, dan nyamuk benar-benar menggigit manusia untuk mendapatkan gula darah. Parasit itu sendiri juga terbukti tahan terhadap gula, baik pada nyamuk maupun manusia. Selain dari darah manusia, nyamuk hidup sebagian besar dari nektar dan gula tanaman lain yang ditemukan di alam liar untuk bertahan hidup.

Proses ini menjadi menarik karena parasit malaria bisa membuat
inangnya mengidam.  Parasit malaria mengendalikan nyamuk ketika berada di tubuh nyamuk, membuat nyamuk mengidam makanan nabati, sementara parasit itu mengeram, dan kemudian membuat nyamuk membutuhkan darah ketika tiba waktunya untuk melakukan perjalanan ke manusia. Dari sana, malaria memakan gula dalam darah tetapi juga menyebabkan anemia dan kekurangan vitamin, yang akan menyebabkan tubuh manusia menginginkan gula, yang akan menyebabkan manusia meningkatkan kadar gula darah sehingga malaria dapat kembali ke nyamuk lagi.

3. Chlorovirus ATCV-1

Virus kecil yang jahat ini telah lama diketahui mempengaruhi pola perilaku tikus, menyebabkan beberapa kekurangan kognitif yang cukup parah pada mereka, dan juga diketahui menginfeksi manusia. Ada proses panjang dimana virus ini membuat perubahan kimia yang mempengaruhi perilaku organisme inangnya, tetapi singkatnya, itu membuat orang menjadi bisu

Chlorovirus ATCV-1 secara signifikan merusak kemampuan kognitif manusia yang terinfeksi, dan tidak hanya itu, virus ini dapat hidup di dalam diri manusia selama bertahun-tahun. Di luar itu, ada sebuah penelitian kecil tentang virus di Amerika Serikat, yang menyimpulkan bahwa 44 persen peserta diketahui memiliki virus, yang biasanya hidup di ganggang tetapi cenderung tinggal di tenggorokan pada manusia.

4. Naegleria Fowleri

Naegleria fowleri adalah amuba yang menakutkan, amuba ini langsung menuju otak setelah menginfeksi inangnya. Ia juga dikenal sebagai amuba pemakan otak, serta pemakan bakteri. Bahkan lebih menakutkan, ia hidup di air dan dapat melakukan perjalanan melalui hidung dan ke otak, di mana ia melakukan kerusakan, biasanya pada akhirnya membunuh seseorang. Perjalanan sederhana ke danau atau bahkan kontak dengan air dari sekitar tempat tinggal dapat membuat kita terpapar parasit ini.

Gejala awal dari binatang kecil ini mulai antara satu sampai sembilan hari setelah terpapar, biasanya dimulai sekitar lima hari, dengan gejala sakit kepala, mual, muntah, dan gejala-gejala dasar seperti flu pada awalnya. Tetapi kemudian dapat berkembang menjadi kurangnya perhatian pada orang dan lingkungan, serta vertigo atau kehilangan keseimbangan, halusinasi, dan akhirnya kematian.

5. Trypanosoma Brucei

Photo credit: Wellcome Trust

Trypanosoma brucei adalah spesies protozoa. Ini adalah parasit darah yang menginfeksi hewan dan kadang-kadang juga manusia . Siklus hidupnya agak panjang, dimulai dari lalat tsetse, yang menggigit manusia. Kemudian masuk ke sistem limfatik manusia, dan dari sana, ia berpindah ke aliran darah.

Infeksi dari parasit ini dapat menyebabkan penyakit tidur, yang dapat membahayakan hewan dan manusia, dan muncul dalam dua tahap gejala yang terpisah. Gejala pada awal infeksi yaitu nyeri sendi, nyeri otot, demam, dan pembengkakan kelenjar getah bening, sementara tahap kedua menyebabkan perubahan perilaku dan kelesuan yang ekstrem ketika parasit mulai menyerang tulang belakang dan otak. Pada akhirnya, T. brucei bisa membunuh manusia.

Perlu dicatat di sini bahwa tujuan dari banyak parasit jenis ini tampaknya bertujuan membuat inangnya terganggu tanpa membunuhnya dengan cepat. Karena inang yang mati tidak mungkin menyebarkan parasit dan membantu menyelesaikan siklus hidupnya, jadi menguntungkan bagi parasit untuk melemahkan inangnya perlahan, lalu setelah mati, korban
potensial  dimangsa hewan lain yang diperlukan untuk parasit tersebut. untuk bereproduksi.

6. Rabies

Photo credit: Centers for Disease Control and Prevention

Rabies adalah virus yang menyerang otak dan tulang belakang, sehingga menyebabkan kerusakan yang cukup besar pada organisme inangnya sebelum hampir selalu membunuhnya. Rabies hidup dalam air liur manusia dan hewan yang terinfeksi, yang kemudian mentransmisikan ke inang lain hanya dengan satu gigitan.

Manusia yang digigit mengalami beberapa perubahan perilaku menarik yang membantu virus berkembang biak, seperti yang terjadi pada hewan lain. Organisme yang membawa virus rabies cenderung menjadi sangat agresif dan gelisah, dan sebagian besar mamalia menjadi lebih berani dan ingin menggigit. Manusia dapat menderita delirium dan halusinasi serta gejala seperti flu pada awalnya. Tetapi ketika penyakit mulai menyerang, virus ini hampir selalu berakibat fatal.

Yang lebih aneh lagi adalah bahwa virus rabies menyebabkan hidrofobia, yaitu rasa takut yang ekstrem terhadap air . Rabies hidup dalam air liur yang terinfeksi, membuat inang takut air, dan tidak akan membasuh virus dari mulut mereka, membuatnya lebih mampu menularkan dan mereproduksi.

7. Intestinal Microflora

Candida adalah sejenis ragi yang tumbuh di usus dan sangat suka memakan gula yang kita konsumsi.  Ketika jamur kecil ini tumbuh terlalu banyak, mereka mengeluarkan bahan kimia yang kemungkinan menyebabkan orang tersebut membutuhkan lebih banyak gula, dengan demikian melanjutkan siklus mikroflora itu sendiri. Dengan cara yang aneh, mereka membajak pikiran manusia untuk mengidam gula karena jamur ini menginginkan gula, dan mereka telah berevolusi untuk memancarkan bahan kimia yang menyebabkan manusia memiliki hasrat gula yang sama dengan yang mereka lakukan.

Beberapa orang suka cokelat , sementara yang lain lebih acuh. Yang lebih acuh ini sebenarnya memiliki bakteri usus yang “kebal” terhadap cokelat — artinya, mikroba tidak begitu menyukainya, dan karenanya, mereka tidak mengidam. Bakteri ini dapat memiliki beberapa efek yang cukup luas: Penelitian telah menunjukkan bahwa orang gemuk memiliki bakteri usus yang berbeda dari orang dengan berat badan sedang.