Top 7

7 Jenis Senjata Militer yang Gagal Sebelum Dipakai Perang

Daftar penemuan disini merupakan rangkaian inovasi dalam bidang militer yang aneh dan pada akhirnya tidak diproduksi massal, walaupun sempat digunakan beberapa kali di medan perang. Inovasi selalu merupakan pertaruhan. Bahkan misalnya untuk setiap inovasi radar atau bom yang canggih, selalu ada beberapa inovasi yang biayanya mahal dan tidak bekerja seperti yang diharapkan.

Beberapa proyek yang paling menarik adalah proyek yang hampir membuahkan hasil, baik melalui tekad individu yang meyakinkan atau sedikit kemungkinan berhasil.

1. The Maus

Sekutu bukan satu-satunya pihak di Perang Dunia II yang memiliki ide-ide aneh. Adolf Hitler secara khusus menginginkan tank superheavy yang tidak bisa dihancurkan. Dia mengusulkannya pada tahun 1942, dan beberapa orang di puncak militer Jerman saling berbagi ide untuk mewujudkannya. The Maus (“tikus“) adalah tank raksasa seberat 200 ton yang dirancang oleh Ferdinand Porsche, tetapi rancangan ini memiliki masalah mekanis sejak awal.

Sistem transmisi tank ini mengalami kegagalan terus-menerus. Meskipun menggunakan mesin pesawat Daimler-Benz untuk menggerakkan motor, kecepatan tank ini sangat lambat, hanya 19 kilometer per jam. Tank ini memiliki lapisan baja setebal lebih dari 23 sentimeter, dan Maus tidak memiliki senapan mesin tunggal untuk membuatnya cocok dalam pertempuran jarak dekat, dimana pertempuran jarak dekat bakal sering dihadapi.

Awalnya, tank ini akan diproduksi sejumlah 150 unit, karena permasalahan teknis dan kekhawatiran dari jenderal tidak dapat diatasi, akhirnya hanya dua prototipe yang selesai.

2. The Coleoptere

Kredit foto: airspacemag.com

The Coleoptere ( “kumbang”) adalah salah satu bentuk rancangan pesawat yang paling aneh yang pernah dibuat. Dengan sayap berbentuk cincin yang melilit badan pesawat, ia mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal. Bahkan, perancang berteori bahwa pesawat ini mampu mencapai kecepatan supersonik setelah mengudara.

Namun, Coleoptere memiliki masalah sejak awal. Dalam uji coba terbang, pilot Auguste Morel mengeluh bahwa hampir tidak mungkin untuk mengukur ketinggian vertikal. Dia harus mendengarkan perubahan dengung mesin untuk mengukur ketinggian pesawat. Bahkan versi-versi Coleoptere yang terakhir memiliki kecenderungan yang sulit untuk berputar secara vertikal.

Sayangnya, satu-satunya momen saat Coleoptere mencapai penerbangan horizontal adalah waktu mengalami kecelakaan. Pada penerbangan kesembilan dan terakhirnya, pesawat itu bergoyang-goyang tak terkendali saat turun, dan akhirnya berakselerasi secara horizontal dengan singkat. Pilot keluar pesawt dengan pelontar, dan Coleoptere hancur dan terbakar, dan proyek dihentikan.

3. The Bat Bomb

The Bat Bomb, Photo credit: United States Army Air Forces

The Bat Bomb (”bom kelelawar”), merupakan ide dari seorang dokter gigi Pennsylvania, Lytle S. Adams, pada masa perang Dunia ke 2, yang membayangkan Jepang bisa dihancurkan oleh serangkaian bencana kebakaran. Caranya yaitu dengan mengikatkan bom-bom kecil pada ratusan kelelawar.

Ide ini didapatnya setelah sangat terkesan melihat kelelawar dalam perjalanannya ke Carlsbad Caverns. Ketika dia mendengar berita bahwa Jepang telah menyerang Pearl Harbor, dia menyampaikan idenya kepada temannya Eleanor Roosevelt .

Komite Pertahanan Riset Nasional jelas menyambut gagasan itu. Seiring berjalannya waktu, “Project X-Ray” telah menginvestasikan lebih dari $ 2 juta untuk menyelesaikan masalah transportasi kelelawar dan pelepasan serentak.

Bom kelelawar mungkin saja berhasil, tetapi militer AS memutuskan untuk memindahkan semua sumber daya pengembangannya ke senjata yang jauh lebih kuat. Pada akhirnya, bom atom menjadi prioritas yang lebih tinggi daripada bom kelelawar.

4. The Great Panjandrum

Kredit foto:: wired.com

The Great Panjandrum, senjata aneh buatan Inggris pada Perang Dunia ke Dua ini memiliki dua roda roket selebar 3 meter yang terpasang pada drum berisi bahan peledak. Panjandrum didesain untuk melaju di pantai secepat mobil, lalu meledak dan menimbulkan lubang besar di pertahanan Jerman untuk bisa dilewati pasukan dan tank Inggris.

Dalam praktiknya, laju dorongan roket dan laju roda tidak dapat diprediksi. Panjandrum sangat tidak stabil dan tidak pernah bisa diandalkan untuk mengarah tepat sasaran.

Para perancangnya mencoba menambahkan roda ketiga dan kabel baja untuk kemudi, tetapi tidak ada yang benar-benar membantu. Selain itu, ketika Panjandrum mencapai kecepatan tertinggi 97 kilometer per jam , roket terlepas dengan sendirinya.

Panjandrum sempat diuji di depan anggota militer pada Januari 1944. Awalnya, test berjalan dengan baik. Panjandrum meluncur melewati ombak dalam garis lurus dan mulai berakselerasi. Namun, ketika roda itu mulai melaju cepat, roket-roket mulai terlepas dan menembak ke segala arah. Parahnya, Panjandrum hampir menabrak juru kamera resmi. Panjadrum, pada akhirnya tidak digunakan dalam medan perang sesungguhnya.

5. The Puckle Gun

Photo credit: Mike Peel

Diciptakan pada tahun 1718 oleh pengacara Inggris James Puckle, Puckle gun adalah senjata multi-shot pertama yang dipatenkan di dunia. Senjata ini mampu menembakkan tiga kali lipat lebih banyak peluru dibanding senapan flintlock single-shot standar — dengan akurasi dan jangkauan yang sama.

Bahkan, senjata ini bisa menembakkan peluru persegi aneh yang dirancang untuk menyebabkan rasa sakit maksimum.

Namun, pistol Puckle tidak bisa diandalkan dan mahal untuk dibuat. Banyaknya komponen yang rumit membuat produksi massal menjadi tidak mungkin dilakukan dan mustahil digunakan militer saat itu.

Meskipun itu bukan senjata besar, senapan itu harus dalam posisi diam untuk menembak. Selain itu, waktu yang diperlukan untuk mencopot, memasang, memindahkannya ke lokasi baru, dan mengaturnya lagi terbukti terlalu lambat bagi para pemimpin militer di zaman itu. Akibatnya, senapan ini tidak pernah digunakan lagi.

6. Rudal dengan Panduan Merpati

Rudal yang dipandu merpati adalah rudal era Perang Dunia II dengan tiga ekor merpati di bagian hidung rudal, dengan masing-masing burung dilatih untuk mengarah ke kapal perang kelas Bismarck Jerman. Jika merpati mematuk di tengah layar kecilnya, rudal itu terbang lurus. Jika dipatok di luar layar, rudal akan mengubah arah untuk kembali ke jalurnya.

Meskipun terdengar konyol, rudal yang dipandu merpati itu berfungsi sesuai harapan, dan sangat andal. BF Skinner, otak di balik gagasan itu, adalah seorang profesor psikologi di Universitas Harvard yang terkenal karena eksperimen perilaku tikus. Setelah mengembangkan rudal, dia menyatakan bahwa dia tidak akan pernah menggunakan tikus lagi karena merpati sangat terlatih.

Gagasan itu sepenuhnya diuji tetapi tidak pernah digunakan dalam pertempuran. Skinner menyalahkan keengganan para jenderal untuk mendukung gagasan merpati yang membimbing sebuah bahan peledak. Tapi sebenarnya, penemuan baru yaitu peluru kendali radar menggantikan inovasinya.

7. The Gay Bomb

Gagasan tentang “bom gay” adalah perkawinan yang mengerikan dari sains dan homofobia yang merajalela pada tahun 1950-an. Pada tahun 1994, Laboratorium Wright Angkatan Udara AS meminta $ 7,5 juta untuk mengembangkan bahan kimia afrodisiak yang dapat disebarkan oleh bahan peledak dan akan menyebabkan “perilaku homoseksual” pada pejuang musuh.

Seluruh gagasan itu gagal pada tingkat ilmiah. Pertama, tidak ada mekanisme yang diketahui bahan kimia apa yang menyebabkan orang heteroseksual tiba-tiba mengubah orientasi seksual mereka. Kedua, tidak ada bahan kimia afrodisiak yang diketahui pernah memiliki efek terukur pada tubuh manusia, apalagi yang drastis.

Gagasan inipun gagal pada tingkat konseptual, karena tidak ada bukti bahwa pesta gay besar benar-benar akan mengurangi moral pasukan.

Karena didera berbagai permasalahan, dana tidak pernah dikirimkan dan seluruh proyek tidak pernah lolos dalam tahap konseptual.