Home Kesehatan Antibiotik Baru Ditemukan Menggunakan Teknologi AI

Antibiotik Baru Ditemukan Menggunakan Teknologi AI

54
0

Dengan menggunakan AI (Artificial Intelligence), atau kecerdasan buatan, para peneliti di MIT telah menemukan antibiotik baru yang kuat yang mampu membunuh beberapa bakteri yang resistan terhadap obat yang dikenal manusia. 

Metode saat ini untuk mengidentifikasi antibiotik memerlukan biaya sangat mahal, dan membutuhkan banyak waktu, serta biasanya terbatas pada kisaran keanekaragaman kimia yang sempit. Untuk mengatasi masalah ini, para peneliti di MIT mengembangkan model komputer pembelajaran mesin yang mampu memeriksa struktur molekul senyawa untuk melihat apakah mereka dapat membunuh bakteri tertentu. 

Untuk melakukan ini, mereka pertama-tama melatih algoritma pembelajaran yang mendalam (deep learning) untuk mengenali berbagai jenis molekul yang membunuh bakteri dengan memberi makan informasi tentang karakteristik atom dan molekuler dari hampir 2.500 obat dan senyawa alami. Bersamaan dengan ini, mereka menambahkan data tentang seberapa baik setiap zat mencegah pertumbuhan Bakteri E coli. 

Setelah ini, para ilmuwan kemudian menggunakan algoritma untuk menganalisis lebih dari 6.000 senyawa yang saat ini sedang diselidiki untuk mengobati berbagai penyakit manusia. Alih-alih mencari antimikroba potensial, mereka malah memfokuskan algoritma untuk menemukan senyawa yang tampaknya efektif, tetapi tidak menyerupai antibiotik saat ini. Dengan melakukan itu, mereka ingin menemukan kandidat obat yang mampu menangkal resistensi antibiotik

Hanya dalam beberapa jam, algoritma berhasil menemukan kandidat antibiotik yang menjanjikan: halicin, dinamai Hal (Heuristically Programmed ALgorithmic Computer), adalah fiksi makhluk komputer  (atau kecerdasan umum buatan) tahun 1968 pada film 2001: A Space Odyssey. Menguji molekul pada tikus, para peneliti memperhatikan bahwa itu secara efektif menggulingkan bug gastrointestinal Clostridium difficile (C. diff), sering menjadi penyebab infeksi fatal di antara pasien yang dirawat di rumah sakit, serta bug tahan antibiotik lain, yang disebut Acinetobacter baumannii, yang diketahui menyebabkan infeksi. dalam darah, saluran kemih dan paru-paru. 

Lebih dari ini, para ilmuwan juga menguji halicin pada bakteri yang dikumpulkan dari pasien. Dengan melakukan hal itu, mereka menemukan bahwa itu juga bekerja melawan Mycobacterium tuberculosis, bakteri di belakang TBC, dan strain Enterobacteriaceae, yang sering bertanggung jawab atas penyakit diare. 

Setelah ini, para peneliti menetapkan algoritma pada 107 juta senyawa dari database 1,5 miliar. Dalam tiga hari, itu berhasil membuat daftar 23 antibiotik potensial, dari mana dua tampaknya sangat berguna. 

Sekarang para peneliti bertujuan untuk mencari lebih banyak dari database untuk kandidat obat yang mungkin, serta berharap mereka dapat menemukan antibiotik yang lebih selektif dalam bakteri yang mereka bunuh; hanya membunuh target menular, bukan bakteri sehat yang hidup di usus. Lebih dari ini, para peneliti juga berharap model komputer seperti itu dapat segera digunakan untuk merancang antibiotik baru dari awal. 


Sumber: The Guardian , MIT News dan The Conversation 

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here