Sains & Teknologi

Apa Bentuk Alam Semesta?

Sebagian besar pengamat biasa akan menganggap bahwa kosmos adalah ruang yang mengembang infinity (selamanya) , tetapi jawabannya tidak sesederhana menatap ke langit berbintang dan mengabaikan pengukuran.

Relativitas umum mensyaratkan bahwa alam semesta tetap sama sepanjang (homogenitas) dan muncul sama di semua arah (isotropi). Karena itu, bentuk alam semesta adalah hasil dari dorongan
dan tarikan gravitasi dan energi gelap. Ini mungkin terdengar asing. Karakteristik yang sama menentukan tiga kemungkinan nasib alam semesta: Big Crunch, Big Rip, dan Big Chill (Big Freeze).

Sama seperti alam semesta dengan kerapatan energi kurang dari tarikan gravitasinya pada akhirnya akan runtuh pada dirinya sendiri (skenario Big Crunch), gravitasi yang sama akan mengatasi energi gelap untuk membentuk semesta menjadi sebuah bola. Alam semesta berbentuk bola menyiratkan bahwa ada jumlah ruang yang terbatas (seperti halnya
ada jumlah permukaan yang terbatas pada sebuah bola), bahwa dua garis yang muncul secara paralel pada akhirnya akan konvergen (sama seperti garis bujur di Bumi bertemu ketika mereka mendekati kutub dari khatulistiwa), dan bahwa dengan menempuh perjalanan cukup jauh kita dapat kembali ke posisi semula.

Sebaliknya, alam semesta dengan kepadatan energi lebih besar dari tarikan gravitasinya akan menunjukkan berlawanan geometri, lebih menyerupai pelana daripada bola. Di alam semesta yang demikian, yang luar biasa
kekuatan energi gelap menarik alam semesta ke dalam kurva terbalik di mana awalnya garis sejajar akan secara bertahap berbeda. Sama seperti skenario sebelumnya, alam semesta ini masih terbatas.

Namun, sama seperti para kosmolog cukup yakin bahwa kosmos tidak akan mengakhiri hidupnya dalam bentuk Big Rip atau Big Crunch, mereka sama-sama yakin bahwa geometri alam semesta tidak berbentuk bola juga tidak berbentuk pelana. Ketika gravitasi dan energi gelap mencapai keseimbangan dalam pengaruhnya terhadap kosmos, matematika menyiratkan bahwa alam semesta hanya akan membentang selamanya sebagai bidang datar tak terbatas.
Di alam semesta ini, dua garis paralel awalnya dan tetap paralel selamanya, dan kita tidak akan pernah bisa kembali ke titik awal dengan menempuh jarak berapa pun ke arah yang sama.

Perlu dicatat bahwa kepercayaan pada pengukuran ini tergantung pada kebenaran Einstein terkait asumsi tentang homogenitas dan isotropi serta keakuratan pemahaman saat ini tentang materi gelap. Asumsi-asumsi ini mendasari model standar kosmologi, tetapi harus mereka buktikan, bahkan jika sedikit tidak akurat, kita bisa hidup di alam semesta yang jauh berbeda.

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *