Miniticle Sains

Apa Penyebab Déjà Vu?

Fenomena déjà vu sulit dipelajari karena hanya terjadi sebentar dan tanpa pemberitahuan, dan menghilang dengan cepat.

Barangkali kita pernah mengalami fenomena supernatural yang signifikan, yang dikenal sebagai Déjà Vu. Déjà vu berasal dari istilah Perancis yang berarti “sudah terlihat.” Fenomena ini seperti merasa kamu pernah melakukan percakapan atau mengalami kejadian yang persis sama dengan seseorang atau kejadian sebelumnya. Atau berjalan ke ruangan yang belum pernah kamu masuki sebelumnya, dan merasakan bahwa kamu pernah berada di sana di masa lalu. Meskipun pada kenyataannya, peristiwa itu sama sekali baru dialami.

Fenomena déjà vu sulit dipelajari karena hanya terjadi sebentar dan tanpa pemberitahuan, dan menghilang dengan cepat. Selain itu, tidak adanya manifestasi fisik dari pengalaman tersebut, membuat para ilmuwan hanya memiliki sedikit ruang untuk meneliti. Jadi, meskipun para peneliti telah mempelajari déjà vu selama lebih dari 100 tahun dan teori-teori untuk menjelaskannya berlimpah, tidak ada penjelasan konklusif tunggal mengapa itu terjadi, atau proses apa yang terlibat dalam kemunculannya.

Banyak peneliti modern percaya bahwa déjà vu adalah pengalaman otak berbasis memori. Interaksi dari fungsi otak ini bagaimanapun tetap tidak pasti. Satu hipotesis yang umum, yang disebut teori ponsel, atau perhatian terbagi, mengusulkan bahwa ”gangguan singkat” mungkin menjelaskan fenomena seolah telah mengalami sesuatu sebelumnya.

Bayangkan berjalan menyusuri jalan sambil mengobrol dengan seorang teman di ponsel kamu. Sembari bercakap, kamu melewati sebuah restoran baru untuk pertama kalinya, otak kamu secara subliminal, dengan cepat menangkap gambaran restoran baru. Beberapa saat kemudian, ketika percakapan telah berakhir dan kamu memusatkan perhatian kamu sepenuhnya pada lingkungan, kamu menjadi sepenuhnya sadar akan keberadaan restoran itu — dan dikejutkan dengan perasaan deja vu. Apa yang terjadi? Otak kamu, yang selalu bekerja mengamati semua lingkungan, sempat bekerja di bawah kesadaran, dan ketika kamu mengembalikan perhatian penuh ke restoran, kamu merasakan pernah mengenalnya. Faktanya : Kamu baru saja tidak memperhatikannya.

Suatu hipotesa lain, yaitu teori hologram, mengusulkan bahwa beberapa fitur di lingkungan kita, seperti penglihatan atau suara dapat mencitrakan ”ingatan jauh”, yang mampu memicu otak untuk menyusun adegan lengkap dan membentuk pengalaman déjà vu.

Saat kamu mempelajari bagian tertentu dari sebuah lukisan yang belum pernah dilihat sebelumnya, misalnya, ”ingatan jauh” muncul dari dalam otakmu. Menurut teori hologram, ini terjadi karena ingatan disimpan dalam bentuk seperti hologram. Dan dengan hologram, kamu hanya perlu satu fragmen untuk melihat gambaran lengkapnya. Otak kamu mengidentifikasi bagian lukisan itu dengan ingatan masa lalu, mungkin lukisan serupa atau foto yang sebanding yang pernah kamu lihat. Namun, alih-alih mengingat bahwa kamu pernah melihat sesuatu yang serupa di masa lalu, otakmu akan mengingat memori lama tanpa mengidentifikasinya, membuat kamu terbiasa dengan lukisan itu — membentuk pengalaman déjà vu — tetapi tidak dapat mengumpulkan memori aslinya.

Para peneliti berharap bahwa kemajuan dalam teknologi pencitraan otak akan memungkinkan kita untuk lebih memahami bagaimana otak manusia bekerja dan menunjukkan dengan tepat bagaimana fenomena déjà vu terjadi.

Artikel Terkait:

No posts found.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *