Gangguan makan, seperti anoreksia nervosa, bulimia, dan pesta makan berlebihan, ditandai dengan sikap tidak biasa terhadap makanan yang dapat menyebabkan seseorang mengubah kebiasaan makan dan perilaku makannya.

Researchers Develop New Way of Treating Anorexia 970x647 1 - Apa Penyebab Gangguan Makan?

Tidak ada penyebab tunggal gangguan makan yang diketahui. Meskipun perhatian dengan berat badan dan bentuk tubuh tampaknya menjadi pusat dari semua gangguan makan, penelitian sejauh ini menunjukkan bahwa gangguan makan dikaitkan dengan (tetapi tidak disebabkan oleh) banyak faktor yang berbeda, yang mungkin genetik, budaya, sosial, perilaku, psikologis atau biologis.

Oleh karena itu, setiap “penyebab” dari gangguan makan mungkin multifaktorial dan kompleks.

Faktor Risiko Gangguan Makan

Gangguan makan dapat memengaruhi individu dari ras, usia, atau kelas sosial ekonomi apa pun. Faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan mengembangkan gangguan makan meliputi:

Faktor genetik

Penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengembangkan kelainan makan. Individu dengan kerabat tingkat pertama yang memiliki riwayat gangguan makan lebih mungkin dibandingkan individu tanpa kerabat tersebut, untuk diri mereka sendiri mengembangkan gangguan makan. Selain itu, para peneliti telah mengidentifikasi gen spesifik yang mempengaruhi hormon seperti leptin dan ghrelin. Para ahli percaya bahwa selain mengatur pemberian makan, hormon-hormon ini dapat memengaruhi sifat dan perilaku kepribadian yang terkait dengan anoreksia dan bulimia.

Pengaruh di Rumah atau di Sekolah

Penelitian yang ada tentang peran keluarga dalam memicu gangguan makan sebagian besar bersifat lintas seksi, retrospektif, dan tidak berdasar. Namun, perilaku orang tua dapat memengaruhi kebiasaan makan anak mereka. Misalnya, ibu yang berdiet atau mengkhawatirkan berat badannya secara berlebihan dapat memicu anak mereka untuk mengembangkan sikap abnormal terhadap makanan, seperti halnya ayah atau saudara kandung yang menggoda seseorang tentang berat badan atau bentuk tubuhnya.

Demikian pula, komentar yang dibuat oleh teman sekelas di lingkungan sekolah dapat memengaruhi sikap anak terhadap kebiasaan makan dan harapan tinggi orang tua atau guru terhadap kinerja anak di sekolah juga dapat membantu meletakkan dasar untuk gangguan makan.

Kepribadian dan Karakter

Orang dengan gangguan makan cenderung memiliki kepribadian dan perilaku yang serupa seperti harga diri rendah, perfeksionisme, pencarian persetujuan, ketergantungan, dan masalah dengan pengarahan diri sendiri.

Selain itu, gangguan kepribadian tertentu dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan makan, antara lain:

Gangguan Kepribadian Penghindar

Orang dengan kondisi ini biasanya perfeksionis, terhambat secara emosional dan seksual, tidak memberontak, dan takut dikritik atau dipermalukan.

Gangguan Kepribadian Obsesif-Kompulsif

Aku ndividuals dengan gangguan ini mungkin perfeksionis, moral kaku, atau terlalu peduli dengan aturan dan ketertiban.

Gangguan kepribadian ambang

Ini gangguan terkait dengan merusak diri sendiri dan perilaku impulsif.

Gangguan Kepribadian Narsistik

Ciri-ciri gangguan ini termasuk ketidakmampuan untuk menghibur diri sendiri atau berempati dengan orang lain serta kebutuhan untuk dikagumi dan terlalu peka terhadap kritik atau kekalahan.

Faktor psikologi

Kondisi psikologis seperti gangguan stres pasca trauma, gangguan panik, fobia, dan depresi semuanya telah dikaitkan dengan kebiasaan makan yang tidak normal, seperti stresor hidup seperti kehilangan pekerjaan, perceraian, atau menghadapi perundungan atau kesulitan belajar seperti disleksia. Situasi yang membuat stres atau menjengkelkan seperti tenggat waktu yang ketat di tempat kerja, sekolah atau universitas atau mengalami kematian orang yang dicintai adalah contoh faktor yang dapat berkontribusi pada perkembangan gangguan makan.

Gangguan Citra Tubuh

Gangguan citra tubuh seperti gangguan dysmorphic tubuh, di mana seseorang memiliki pandangan yang menyimpang dari tubuhnya, atau dysmorphia otot yang menggambarkan obsesi dengan massa otot, sering dikaitkan dengan anoreksia atau bulimia.

Tekanan Budaya

Dampak media dalam budaya Barat dapat memicu keinginan atau obsesi terhadap gagasan menjadi kurus. Di media, ketipisan atau kelangsingan sering disamakan dengan kesuksesan dan popularitas, yang dapat menumbuhkan dan mendorong gagasan menjadi kurus, terutama di kalangan gadis muda. Namun, media juga gencar memasarkan makanan murah dan berkalori, yang dapat menyebabkan kebingungan dan stres. Tekanan untuk menjadi kurus juga dapat dirasakan oleh individu yang mengambil bagian dalam aktivitas kompetitif atau atletik seperti pemodelan, balet, atau lari.

Akibatnya, orang dapat mengembangkan ekspektasi yang tidak realistis terhadap citra tubuh mereka dan terlalu menekankan pentingnya menjadi kurus.

Faktor Biologis

Sistem tubuh yang disebut sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) mungkin memainkan peran penting dalam gangguan makan.

HPA melepaskan pengatur nafsu makan, stres dan suasana hati seperti serotonin, norepinefrin, dan dopamin. Kelainan pembawa pesan kimiawi ini dianggap memainkan peran penting dalam gangguan makan. Serotonin penting untuk mengendalikan kecemasan dan nafsu makan, sedangkan norepinefrin adalah pengatur stres dan dopamin berperan dalam perilaku mencari hadiah. Ketidakseimbangan serotonin dan dopamin dapat membantu menjelaskan mengapa penderita anoreksia tidak memperoleh rasa senang dari makanan dan kenyamanan umum lainnya.

Sumber:
ARTIKEL TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here