Miniticle Sains

Apakah Atom itu Kekal Abadi?

Eksperimen memperkirakan batas bawah usia paruh proton adalah 1033 hingga 1034 tahun, atau 23 kali lipat lebih lama dari usia alam semesta saat ini.

Terlepas dari apa yang mungkin kamu dengar, alam semesta tidaklah kekal, termasuk batu intan pun tidaklah kekal.

Seiring barjalannya waktu, batu gemerlap ini akan terdegradasi menjadi batu grafit biasa. Namun, rangkaian atom karbon yang membentuk berlian itu sangat lama bertahan. Isotop karbon yang stabil diperkirakan memiliki masa hidup yang jauh lebih lama dari perkiraan umur alam semesta.

Radioisotop adalah bentuk unsur-unsur kimia dengan nukleus (inti atom) yang tidak stabil, dan memancarkan radiasi selama proses peluruhan ke keadaan stabil.

Carbon-14, misalnya, adalah radioisotop yang tidak stabil. Setelah berusia 5.730 tahun, ada peluang 50 persen bahwa atom karbon-14 akan kehilangan elektron dan menjadi nitrogen-14 (yang merupakan bentuk nitrogen stabil paling umum di Bumi). Karbon-14 adalah elemen kunci dalam penanggalan karbon: Karena karbon radioaktif hanya diserap melalui respirasi oleh makhluk hidup, tanggal kematiannya dapat ditentukan dengan mengukur sisa karbon-14 dalam spesimen.

Selain karbon-14, ada sejumlah radioisotop alami lainnya dan lebih dari seribu buatan manusia. Masing-masing radioisotop cenderung terurai menjadi isotop lain: beberapa dalam hitungan hari, yang lain dalam ratusan juta tahun. Dalam pengertian ini, atom-atom ini memang mati. Namun, dengan cara lain, mereka terlahir kembali sebagai isotop yang berbeda.

Ada satu mekanisme di mana bahkan atom stabil dapat “mati.” Beberapa model fisika berhipotesis bahwa proton (yang bersama dengan elektron dan neutron membentuk atom) dapat terurai menjadi partikel subatom yang lebih ringan. Sekalipun proton terurai, mereka tetap awet. Eksperimen memperkirakan batas bawah usia paruh proton adalah 1033 hingga 1034 tahun, atau 23 kali lipat lebih lama dari usia alam semesta saat ini. Kesimpulannya, atom selamanya ada dalam skala waktu tertentu.