Miniticle Sains

Apakah Energi Gelap atau Dark Energy itu?

Mereka menyimpulkan bahwa alam semesta tidak melambat. Malah semakin cepat mengembang.

Pada tahun 1929, astronom Amerika Edwin Hubble mempelajari sejumlah bintang yang meledak, atau supernova, dan menemukan bahwa alam semesta mengembang. Gagasan bahwa galaksi-galaksi bergerak menjauhi galaksi kita adalah gagasan yang radikal.

Para astronom sangat yakin bahwa gravitasi — daya tari menarik anta semua materi — akan mempengaruhi proses ekspansi. Tapi bagaimana caranya? Akankah tarikan gravitasi benar-benar menghentikan ekspansi alam semesta? Bisakah alam semesta berhenti mengembang dan kemudian berbalik kembali ke arah kita? Atau apakah alam semesta pada akhirnya akan lepas dari efek gravitasi dan terus berkembang? Alam semesta bisa saja mengembang, tetapi perluasannya pasti diperlambat oleh efek gravitasi yang kuat.

70 tahun kemudian, dua tim astrofisikawan mulai mempelajari supernova untuk menghitung dugaan perlambatan ekspansi. Mereka adalah Saul Perlmutter di Laboratorium Nasional Lawrence Berkeley dan Brian Schmidt di Universitas Nasional Australia. Yang mengherankan, mereka menemukan bahwa supernova sejauh 7 miliar tahun cahaya tidak lebih terang (seperti yang diharapkan), tetapi lebih redup, yang berarti mereka lebih jauh daripada yang dihitung oleh tim. Mereka menyimpulkan bahwa alam semesta tidak melambat. Malah semakin cepat mengembang.

Penemuan ini mengubah dunia ilmiah: Jika gravitasi bukan kekuatan yang paling dominan di alam semesta, lalu kekuatan apa yang mempengaruhi? Pada tahun 1998, kosmolog teoretis Amerika Michael S. Turner menjuluki sesuatu yang baru yang misterius itu sebagai “energi gelap“.

Namun, kita hanya tahu sedikit tentang energi gelap, bahkan hal ini nampak dari istilah penyebutannya.

Para ahli teori telah memberikan beberapa penjelasan untuk energi gelap. Teori terkemuka mengklaim bahwa energi gelap adalah properti ruang. Albert Einstein mengklaim bahwa ada kemungkinan lebih banyak ruang muncul dan “ruang kosong” dapat memiliki energinya sendiri. ”Semakin banyak ruang muncul,” lapor NASA, ”lebih banyak energi ruang ini akan muncul. Akibatnya, bentuk energi ini akan menyebabkan alam semesta mengembang lebih cepat dan lebih cepat. “

NASA melaporkan bahwa para ilmuwan telah mampu membuat teori tentang berapa banyak energi gelap yang ada di luar sana karena kita tahu bagaimana itu mempengaruhi perluasan alam semesta.

Sekitar 69 persen dari alam semesta adalah energi gelap. Sedangkan materi gelap menyumbang sekitar 27 persen. Sisanya adalah semua materi normal yang sudah dikenal manusia, di mana saja, yaitu kurang dari 5 persen dari alam semesta.

Penjelasan lain menyatakan bahwa energi gelap adalah medan energi baru atau fluida energi yang mengisi ruang dan mempengaruhi ekspansi alam semesta dengan cara berbeda dari materi dan energi normal. Para ilmuwan telah memberi label energi ini “quintessence” – (intisari), tetapi kita masih tidak tahu interaksi yang ditimbulkannya, atau bahkan mengapa itu ada.

Featured image : Pixabay.com