Sains & Teknologi

Bagaimana Cara Astronom Menentukan Usia Semesta ?

Alam semesta begitu tua dan begitu besar sehingga Bumi hanyalah setitik debu yang tidak berarti jika dibandingkan. Para astronom selalu berusaha memahami alam semesta dengan mempelajarinya dan isinya dengan teleskop ruang angkasa berkekuatan tinggi, dan walaupun untuk sementara kita telah belajar banyak tentang hal tersebut sejauh ini, faktanya kita masih tahu sedikit.

Segera setelah Big Bang, alam semesta mulai mengembang lebih cepat dari kecepatan cahaya. Ekspansi itu berlanjut hingga hari ini, dan ketika kita semakin menjauh dari materi paling awal di alam semesta, sebuah fenomena yang sangat menarik yang disebut pergeseran merah (redshift) terjadi. Di sinilah cahaya yang dipancarkan oleh materi itu membentang dan menjadi lebih terlihat dalam spektrum cahaya merah daripada yang lainnya.

Semakin jauh suatu objek, semakin merah tampak bagi para astronom, dan ini adalah salah satu hal yang dipertimbangkan para astronom ketika mencoba untuk menentukan berapa usia alam semesta. Berdasarkan perhitungan modern, alam semesta bisa berusia sekitar 13,8 miliar tahun, dan angka ini sudah diterima secara luas di komunitas ilmiah.

Tetapi jumlah itu bisa segera berubah, terutama mengingat keadaan yang agak menarik di sekitar bintang langka yang miskin logam bernama Methuselah. Berdasarkan siklus evolusi Methuselah, diperkirakan berumur sekitar 14,5 miliar tahun. Jika benar, ini bisa menjadi kunci penting dalam pemahaman kita saat ini tentang usia alam semesta.

Dengan observatorium yang akan datang seperti WFIRST dan James Webb Space Telescope tepat di atas cakrawala, kita mungkin saja mendapatkan kesempatan untuk melihat lebih jauh ke alam semesta yang hidup dan menantang teori 13,8 miliar tahun saat ini. Observatorium ini bahkan dapat menjelaskan Methuselah dan membantu para astronom memastikan umurnya.