Sains & Teknologi

Bangsa Romawi Kuno Diketahui Mengubah Suhu Iklim Di Eropa 2.000 Tahun Lalu

Sangat jelas bahwa aktivitas manusia mengacaukan iklim, menyebabkan rata-rata suhu global naik, permukaan laut naik, dan cuaca ekstrem meningkat.

Dalam studi ini, ditemukan bahwa orang-orang Romawi telah melakukan perubahan iklim ribuan tahun lalu sebelum kita, kemungkinan pada tingkat yang sama. 

Sebuah artikel yang baru-baru ini diterbitkan di Climate of the Past , sebuah jurnal akses terbuka interaktif dari European Geosciences Union, membahas perubahan suhu dari aktivitas manusia selama Kekaisaran Romawi.

Rekonstruksi pola suhu di periode hangat Romawi dan Abad Pertengahan, juga fase dingin yang terjadi selama Periode Migrasi dan kemudian Zaman Es Kecil. Sumber: Phys

Untuk penelitian ini, tim ilmuwan internasional melakukan studi pada penggunaan lahan pada Romawi Kuno untuk memperkirakan tingkat polusi udara yang dihasilkan selama Kekaisaran. Kemudian, dengan model iklim aerosol global, studi ini berupaya mengukur efek yang ditimbulkan manusia terhadap lingkungan setempat. 

Para peneliti menemukan bahwa deforestasi dan berbagai perubahan penggunaan lahan memiliki efek pemanasan 0,15 ° C, hal ini dikompensasi oleh efek pendinginan yang ditimbulkan oleh penyebaran emisi aerosol dari pembakaran pertanian. Hasilnya adalah penurunan keseluruhan suhu 0.17°C, 0.23°C atau 0.46°C (tergantung pada skenario rendah, menengah, atau tinggi emisi, masing-masing)

Efek pendinginan ini tidak bersifat universal. Hasil dari model menunjukkan daerah di Eropa Tengah dan Timur mengalami pendinginan paling ekstrem, sedangkan bagian Afrika Utara dan Timur Tengah justru mengalami pemanasan.

Berbeda dengan perubahan iklim saat ini, tidak mungkin pendinginan ini akan cukup signifikan untuk memiliki banyak efek pada kehidupan sehari-hari di Eropa Romawi. Khususnya, mengingat Periode Hangat Romawi – rentang pemanasan alami – yang terjadi antara 250 SM hingga 400 Masehi. 

Tetapi pembakaran pertanian mungkin berdampak pada cuaca dengan cara lain, kata Anina Gilgen dari ETH Zurich di Swiss kepada  New Scientist . Misalnya, peningkatan polusi udara di kota-kota terdekat, perubahan pola curah hujan dan, akibatnya, berkurangnya ketersediaan air. 

Penelitian pada akhirnya menyimpulkan : “kemungkinan pengaruh manusia pada tanah dan atmosfer mempengaruhi iklim pada skala benua selama Zaman Klasik.”