Sains & Teknologi

Bisakah Kita Melakukan Perjalanan Melintasi Waktu?

Misteri perjalanan waktu tidaklah sesederhana seperti yang digambarkan dalam fiksi ilmiah saat membangun mesin waktu. Faktanya, ide-ide fiksi ini mengharuskan pemahaman yang sangat baik terhadap Teori Relativitas Khusus Einstein dan bagaimana melakukan perjalanan mendekati kecepatan cahaya.

Fisikawan terus merenungkan kemungkinan perjalanan yang lebih cepat dari cahaya (FLT-faster than light travel) dan apa artinya untuk eksplorasi ruang angkasa dan alam semesta kita. Ilustrasi pertama dari kecepatan lebih cepat dari cahaya ada dalam serial televisi Star Trek, ketika “warp drive” mengirim pesawat ruang angkasa bepergian miliaran tahun cahaya dalam hitungan detik.

Jika ini mungkin, para penjelajah ruang angkasa mungkin kembali ke lokasi asalnya dan menemukan bahwa waktu berjalan dengan kecepatan seperti biasanya bagi mereka, artinya 50 tahun mungkin telah berlalu selama pesawat itu pergi, mensimulasikan perjalanan waktu.

Sementara kebanyakan orang memandang waktu sebagai sebuah konstanta, Einstein membuktikan bahwa waktu itu relatif terhadap seberapa cepat suatu objek bergerak sesuai dengan lingkungannya. Einstein menunjukkan bahwa waktu bukanlah entitas yang konsisten mengalir, tetapi terkait dengan ruang, dan semakin cepat seseorang berjalan melalui ruang, semakin banyak persepsi perubahan waktu, sebuah fenomena yang disebut pelebaran waktu.

Jika seorang astronot entah bagaimana dapat melakukan perjalanan mendekati kecepatan cahaya, ia akan mengalami waktu berbeda dari teman-temannya yang tertinggal di Bumi yang bepergian dengan kecepatan biasa. Waktu akan berlalu jauh lebih lambat untuk astronot, dan ketika dia kembali ke Bumi, teman-temannya akan bertambah umur lebih cepat. Namun, hukum fisika menyatakan bahwa kecepatan cahaya adalah konstan, diwakili oleh c dalam persamaan Einstein yang terkenal E = mc2 . Kecepatan cahaya dalam ruang hampa adalah 186.000 mil per detik (299.337 km / jam), dan sementara beberapa fisikawan telah mengidentifikasi proses seperti keterikatan kuantum yang bergerak lebih cepat dari cahaya, mereka tidak membawa massa atau informasi. Untuk sebuah partikel dengan massa, mencapai kecepatan cahaya akan membutuhkan akselerasi yang tak terbatas dan karenanya energi tanpa batas — pencapaian yang tidak realistis.

Pada 2011, fisikawan di institut CERN di Swiss mengira mereka dekat dengan penemuan FLT. Sebuah partikel subatomik baru yang disebut neutrino, yang membawa massa sangat kecil, tampaknya melakukan perjalanan lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Eksperimen mereka meluncurkan partikel dari Swiss ke Italia, dan neutrino tiba di Italia dalam waktu singkat, menggelitik dunia pikiran perjalanan waktu dan kunjungan ke galaksi yang jauh. Sayangnya untuk CERN, percobaan itu cacat. Satu kabel tidak terhubung dengan benar, menghasilkan pengukuran yang salah.

Menurut teori Einstein, benda yang memiliki massa tidak dapat melebihi kecepatan cahaya karena mereka akan membutuhkan jumlah energi yang tak terbatas — baik itu pesawat ruang angkasa atau neutrino. Bahkan dalam semua skenario teoritis di mana kita melakukan perjalanan lebih cepat dari cahaya, kita tidak pernah bisa melakukan perjalanan mundur dalam waktu, hanya maju.

Namun, banyak ilmuwan percaya bahwa bepergian ke masa depan masih memungkinkan itu hanya perlu studi lebih lanjut. Lubang cacing (warm holes), bagian teoretis melalui ruang-waktu yang menghubungkan titik jauh di alam semesta, adalah titik awal yang menarik untuk teori-teori ini. Namun betapapun menariknya kemungkinan, tampaknya kesuksesan masih bertahun-tahun lagi.

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *