Miniticle Sains

Bisakah Kita Upload Data Otak Manusia ke Komputer?

Para peneliti dapat mendeteksi dan merekam aktivitas elektrik otak, tetapi mereka belum membuka misteri tentang bagaimana neuron berinteraksi.

Dalam abad ke depan, para ilmuwan mungkin menemukan cara membuat manusia dapat ”hidup”.

Dalam proses hipotetis yang disebut pengunggahan pikiran, atau transfer pikiran, semua data yang ada di otak seseorang — ingatan, kepribadian, kesadaran, persepsi — akan ditransfer dari otak fisik ke perangkat komputasi, seperti komputer atau jaringan syaraf tiruan.

Secara teoritis, otak akan dipindai serta dipetakan, dan aktivitasnya ditransfer ke perangkat, yang kemudian dapat menjalankan simulasi kemampuan pemrosesan informasi otak. Jika prosesnya berhasil, perangkat komputasi umumnya akan mampu merespons dengan cara yang sama seperti otak manusia asli.

Intinya, mengunggah pikiran berarti manusia bisa hidup tanpa batas.
Akan tetapi, memetakan otak manusia bukanlah tugas yang mudah, karena ilmuwan saraf yang bekerja pada teknologi ini perlu untuk membuktikannya. Otak manusia mengandung sekitar 85 miliar neuron, masing-masing terhubung ke ribuan lainnya melalui cabang yang disebut dendrit dan akson. Sementara banyak orang yang tidak sependapat, beberapa ilmuwan percaya bawah kesadaran kita, ingatan kita, kepribadian kita adalah semata-mata terletak pada sejumlah aktivitas otak, pola-pola impuls elektrokimia yang terjadi baik pada waktu tidur maupun saat bangun tidur.

Para peneliti dapat mendeteksi dan merekam aktivitas elektrik otak, tetapi mereka belum membuka misteri tentang bagaimana neuron berinteraksi. Namun, banyak ilmuwan mencari jawaban untuk memecahkan tantangan ini, dan beberapa prediksi mengunggah pikiran akan menjadi kenyataan suatu hari nanti.

Prospek teknologi “kehidupan kekal” semacam itu telah menimbulkan respons yang kuat dari pihak yang tidak setuju. Beberapa mengklaim bahwa pelestarian otak setelah kematian biologis akan melanggar keyakinan agama mereka. Yang lain berpendapat bahwa penuaan alami dan kematian adalah bagian dari pengalaman manusia dan akan menjadi salah bila memperpanjang hidup di luar apa yang disediakan oleh alam.

Masalah etika dan hukum juga perlu dipertimbangkan. Implikasi politik dan ekonomi juga akan ikut berperan.

Sisi sebaliknya, tentu saja, adalah mempertimbangkan manfaat bagi umat manusia, karena memiliki otak seorang Einstein, Picasso, atau Lincoln dapat bermanfaat mengembangkan pengetahuan dan studi. Mengunggah pikiran akan memungkinkan anggota keluarga memiliki akses ke kenangan yang mengangkat dan informatif dari leluhur yang sudah lama meninggal.

Singkatnya, teknologi ini memiliki potensi untuk memungkinkan kita masing-masing tetap terhubung, dan berkontribusi, kepada masyarakat yang membantu membentuk kita.

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *