Sains & Teknologi

Bukannya Turun Salju, Malah Hujan yang Mengguyur Greenland di Musim Dingin!

Bukan rahasia lagi bahwa Greenland telah kehilangan esnya.

Seiring meningkatnya suhu global, fenomena hujan menjadi semakin biasa terjadi di lapisan es Greenland, yang lumrahnya turun salju. Akibatnya, air hujan menggerogoti es, memicu peristiwa pencairan es secara mendadak, dan menyebabkan permukaan es rentan mencair di masa depan.

Para Peneliti Melintasi Glasier Russel di Greenland. Kevin Krajick (Earth Intitute)
Para Peneliti Melintasi Glasier Russel di Greenland. Kevin Krajick (Earth Intitute)

Biasanya, salju yang jatuh tetap beku ketika mendarat di atas tanah seluas 1.710.000 kilometer persegi, tetapi ketika hujan turun, air yang lebih hangat mencairkan salju dan es di bawahnya. Beberapa bagian dari lapisan es semakin turun bahkan di musim dingin. Diperkiarakan kejadian ini akan memburuk karena perubahan iklim terus menghangatkan planet ini.

Bukan rahasia lagi bahwa Greenland telah kehilangan esnya. Sejak 1990, suhu rata-rata telah meningkat sebanyak 1,8 ° C di musim panas dan 3 ° C di musim dingin. Diperkirakan negara Arktik ini kehilangan sekitar 270 miliar ton es setiap tahun, dengan volume limpasan air hasil lelehan es secara langsung mencapai 70 persen dari total kehilangan.

Seperti yang dipublikasikan para peneliti di Cryosphere, mereka menggunakan citra satelit untuk melihat perbedaan antara salju dan air. Mereka mengumpulkan hasil observasi lapangan tahun sampai dengan tahun 2012 untuk mencari penyebab pencairan di tempat-tempat tertentu.

Kemudian mereka juga melihat data pengamatan dari stasiun cuaca otomatis yang merekam data tentang suhu, angin, dan curah hujan, serta menemukan bahwa lebih dari 300 peristiwa pencairan dipicu oleh hujan selama masa studi mereka.

Pencairan es dapat dipicu oleh beberapa faktor, dan hujan adalah faktor terkuatnya. Udara hangat yang terkait dengan hujan dapat melelehkan es secara langsung, dan itu menciptakan efek bola salju. Hujan memiliki lebih banyak panas daripada salju, jadi ketika turun ke permukaan, hujan akan melelehkan salju dan es di sekitarnya. Menurut penulis utama Marilena Oltmanns, pencairan yang terkait dengan hujan menjadi dua kali lipat di musim panas, dan meningkat tiga kali lipat di musim dingin, meskipun fakta bahwa volume presipitasi tahunan tidak berubah.

Para periset mencatat bahwa siklus itu datang seperti gelombang, meningkat selama empat dekade terakhir, mulai dua sampai tiga hari di musim dingin, dan lebih dari dua kali lipat di musim panas, mulai dua sampai lima hari, semuanya berkontribusi pada siklus. Ketika air mencarikan es, hal itu mengubah permukaan lapisan es dari salju putih yang halus menjadi kolam es yang lebih gelap dan lebih menyerap panas dari matahari. Hal ini menghasilkan peristiwa pencairan yang lebih cepat dan lebih dahsyat ketika matahari muncul.

Air adalah perusak es yang sangat efisien.
Tampak di foto, aliran air lelehan es mengalir di  Gletser Russell.
Kevin Krajick / Earth Institute
Air adalah perusak es yang sangat efisien. Tampak di foto, aliran air lelehan es mengalir di Gletser Russell. Kevin Krajick / Earth Institute

“Jika hujan terjadi di musim dingin, itu mengindikasikan es menjadi lebih rentan di musim panas,” kata ahli geologi Marco Tedesco dalam sebuah pernyataan .

Peristiwa serupa telah diamati di tundra Kanada dan Alaska, di mana meningkatnya hujan musim semi mencairkan lapisan es dan melepaskan sejumlah besar metana gas rumah kaca.