Kesehatan Sains & Teknologi

Cara Baru Perangi Nyamuk, dengan Membuatnya Merasa Kenyang

Cara Kerjanya Mirip dengan Obat Anti-Obesitas

Terdapat lebih dari 3500 spesies nyamuk di dunia, dan justru mayoritas dari mereka adalah vegetarian, bukan penghisap darah. Nyamuk penghisap darah manusia termasuk golongan minoritas, jumlahnya sekitar 200 spesies, dan hanya nyamuk betina dewasa yang menghisap darah. Dari jumlah ini, tidak semuanya penyebar penyakit (spesies vektor).

Penyakit yang disebarkan oleh nyamuk, seperti malaria dan demam berdarah, membunuh lebih dari satu juta orang per tahun. Vaksin terhadap penyakit dan berbagai cara dilakukan untuk menurunkan angka kematian, tetapi ini tidak cukup. Dikutip dari IFL Science, Dr Laura Duvall punya ide menarik, yaitu dengan membuat nyamuk, dan mungkin juga invertebrata penggigit lain, merasa seolah-olah mereka kenyang, sehingga mereka tidak menghisap darah lagi. Doktor dari Universitas Rockefeller ini mengamati bahwa sekali nyamuk memiliki cukup darah untuk memasok telurnya, ia kehilangan minat untuk mengganggu manusia dan kembali ke mengkonsumsi nektar yang manis.

Efek ini didapat dengan reproduksi menggunakan neuropeptida (molekul kecil seperti protein yang digunakan oleh neuron untuk berkomunikasi satu sama lain. Neuron adalah sel syaraf yang membawa impuls listrik) dengan menghilangkan nafsu makan nyamuk, tetapi proses ini tidak bisa digunakan di alam liar. Oleh sebab itu, Duvall mencari sesuatu yang lebih praktis, dengan  cara menggunakan obat anti-obesitas yang dirancang untuk mempengaruhi reseptor NPY (sel syaraf untuk menimbulkan rasa lapar).

Ketika Duvall memberikan nyamuk Aedes Aegypti dengan obat anti-obesitas yang mengaktifkan reseptor NPY, dia menemukan perbedaan dramatis dalam kelaparan mereka akan darah manusia. 

Setelah mendemonstrasikan obat anti-obesitas berhasil, Duvall melaporkan di situs Cell , bahwa timnya menguji obat pada semua 49 reseptor neuropeptida di otak nyamuk dan mengidentifikasi NPYLR7 sebagai reseptor yang terpengaruh. Nyamuk yang secara genetika direkayasa untuk kekurangan reseptor NPYLR7, sehingga selalu kembali ingin untuk makan setelah menghisap darah manusia.

Agar tidak semua hewan terdampak, diperlukan sesuatu yang lebih spesifik daripada melepaskan obat anti-obesitas langsung ke alam liar. Dari 265.000 kemungkinan obat yang diidentifikasi Duvall, ditemukan senyawa yang dikenal sebagai senyawa 18, yang tampaknya tidak mempengaruhi manusia, tetapi membuat nyamuk Aedes Aygepti betina kehilangan minat dalam menghisap darah selama beberapa hari.

Namun dalam pelaksanaannya, masih belum diketahui apakah berdampak kepada spesies hewan tertentu yang tak merugikan manusia.  Duvall sedang mempertimbangkan pilihan seperti menggunakan perangkap berumpan (hanya nyamuk tertentu yang menjadi target), atau dengan cara memodifikasi genetika nyamuk jantan untuk menghasilkan senyawa seperti molekul 18 yang mereka transmisikan ke betina melalui air mani mereka. Dia berharap apa pun yang dia temukan akan terbukti dapat diaplikasikan untuk spesies nyamuk penyebar penyakit lain, seperti yang menyebarkan malaria, virus zika, dan lainnya.