Home Kesehatan Dapatkah Ilusi Optik Digunakan untuk Mendiagnosis Autisme?

Dapatkah Ilusi Optik Digunakan untuk Mendiagnosis Autisme?

173
0

saxaphone big - Dapatkah Ilusi Optik Digunakan untuk Mendiagnosis Autisme?

Sekilas apa yang terlihat – seorang wanita muda? Atau mungkin seorang seniman jazz ? Ilusi optik klasik ini terjadi karena fenomena yang dikenal sebagai binocular rivalry. Di sini, otak disajikan dengan dua gambar secara bersamaan. Alih-alih melapiskan dua gambar, otak menekan input gambar dari satu mata, membuat input dari yang lain lebih dominan. 

Saat melihat ilusi visual ini, otak hanya dapat melihat satu gambar pada satu waktu – dengan cepat beralih antara wanita atau pemain saksofon.  Dalam video ini oleh BrainCraft, mekanisme di mana pengalaman optik ini terjadi dijelaskan.

Ketertarikan pada efek visual ini mengingatkan kembali pada filsuf Yunani Aristoteles, yang berteori bahwa informasi sensorik dari masing-masing mata menyatu menjadi satu, yang mengakibatkan kita memandang dunia sebagai penyatuan tunggal. Hari ini, efek visual binocular rivalry telah membantah teori Aristoteles dan sekarang menjadi alat empiris yang umum digunakan untuk mempelajari persepsi dan kesadaran

Awal tahun ini, para ilmuwan dari Universitas Johns Hopkins dan Departemen Ilmu Psikologi dan Otak di Universitas Dartmouth menemukan bahwa persaingan teropong juga bisa menjadi penanda diagnostik awal autisme .

Pada orang dengan autisme dapat mengalami hipersensitivitas ekstrim terhadap rangsangan sensorik sehari-hari, termasuk kelebihan visual (visual overload).  Para peneliti sekarang dapat menghubungkan kepekaan ini dengan ketidakmampuan untuk fokus dan mendapatkan kejelasan ketika disajikan dengan rangsangan visual yang kompleks seperti warna-warna cerah, pola rumit atau lampu berkedip.

Untuk menguji hipotesis mereka, para peneliti menghubungkan elektroda ke peserta autis dan neurotip untuk mengukur aktivitas otak mereka. Mereka kemudian diperlihatkan gambar-gambar berpola, dengan dua warna berbeda ditunjukkan pada masing-masing mata kiri dan kanan. Peserta autis berjuang secara signifikan dengan mengalihkan perhatian mereka antara dua gambar menggunakan persaingan binokular, dibandingkan dengan kelompok neurotipikal.

Dengan menggunakan tingkat binocular rivalry sebagai ukuran, para peneliti dapat memprediksi seberapa lanjut gejala autisme pada individu dengan akurasi yang mengesankan. Dengan menggunakan metodologi baru ini, mereka dapat memprediksi dengan benar bahwa seorang partisipan berada dalam spektrum autisme 87 persen dari waktu.

Para ahli saraf berharap bahwa ini akan berfungsi sebagai alat diagnostik non-verbal sederhana untuk autisme di masa depan.

Sumber:  Current BiologyBrainCraft .

printfriendly button - Dapatkah Ilusi Optik Digunakan untuk Mendiagnosis Autisme?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here