Home Kesehatan Flu Babi yang Baru Diidentifikasi dapat Menjadi Pandemi pada Manusia

Flu Babi yang Baru Diidentifikasi dapat Menjadi Pandemi pada Manusia

59
0

Para peneliti di Cina telah mengidentifikasi virus influenza yang disebut G4 yang dapat menginfeksi babi dan manusia. Sementara G4 belum dapat menyebar dari orang ke orang, para ilmuwan mengatakan bahwa ia memiliki “semua ciri penting” dari virus pandemi masa depan.

GettyImages 1157287107 1024x683 1 - Flu Babi yang Baru Diidentifikasi dapat Menjadi Pandemi pada Manusia
Virus yang baru ditemukan mungkin berpotensi menjadi pandemi.

Para ilmuwan menyamakan babi dengan “bejana pencampur” atau mixing vessel untuk menghasilkan virus pandemi influenza karena mereka menampung virus flu mamalia dan flu burung.

Ketika berbagai jenis virus menempati hewan yang sama, mereka dapat bertukar gen untuk membuat jenis baru dengan potensi untuk menginfeksi inang baru.

Penelitian yang dipimpin oleh Honglei Sun di Universitas Pertanian Cina (CAU) di Beijing telah mengidentifikasi jenis babi yang sudah mulai menginfeksi manusia.

Disebut G4, itu menggabungkan gen dari tiga jenis influenza yang berbeda:

  • jenis yang mirip dengan virus yang ada pada burung Eropa dan Asia
  • strain Amerika Utara yang memiliki gen dari virus flu burung, manusia, dan babi
  • jenis H1N1 yang pertama kali terdeteksi oleh para peneliti di Amerika Serikat dan yang menyebabkan pandemi flu babi 2009

Saat ini tidak ada bukti bahwa G4 dapat ditularkan dari orang ke orang. Namun, keberadaan gen dari strain pandemi H1N1 menunjukkan bahwa ia mungkin mengembangkan kemampuan ini di masa depan.

Penyeka hidung

Antara 2011 dan 2018, tim peneliti menganalisis sekitar 30.000 usap hidung (swab) yang diambil dari babi di rumah pemotongan hewan di 10 provinsi Cina.

Mereka juga menganalisis 1.000 penyeka dari babi dengan gejala pernapasan yang telah menerima perawatan di rumah sakit pendidikan kedokteran hewan CAU.

Para peneliti mengidentifikasi total 179 virus influenza babi, termasuk G4, yang mulai mendominasi dalam sampel mulai 2016 dan seterusnya.

Menjelaskan temuan mereka dalam jurnal Proceeding of National Academy of Sciences Amerika Serikat , para peneliti mengatakan bahwa G4 memiliki “semua ciri penting dari kandidiat virus pandemi.”

Mereka juga mendeteksi antibodi terhadap virus dalam darah orang yang bekerja di peternakan babi.

Dari 338 pekerja yang menjalani pengujian untuk G4, 35 (10,4%) menerima hasil positif. Tingkat infeksi lebih tinggi di antara pekerja muda berusia 18-35, dengan sembilan dari 44 (20,5%) tes positif.

Sebuah survei rumah tangga menemukan antibodi terhadap G4 pada 4,4% dari 230 orang yang menjalani tes.

Para ilmuwan menulis bahwa tingkat infektivitas ini “sangat meningkatkan peluang adaptasi virus pada manusia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap kemungkinan generasi virus pandemi.”

Eksperimen laboratorium

Di laboratorium, para peneliti menunjukkan bahwa virus itu dapat menginfeksi kultur sel epitel manusia yang melapisi saluran udara paru-paru.

Virus ini juga memiliki kemampuan untuk menginfeksi musang, yang sering digunakan para peneliti untuk memodelkan influenza manusia, dan untuk mentransmisikan dari hewan ke hewan melalui tetesan udara kecil yang disebut aerosol.

Penyakit infeksi yang disebabkan oleh patogen yang telah melompat dari satu spesies inang ke spesies lain dikenal sebagai zoonosis .

James Wood, kepala Departemen Kedokteran Hewan di University of Cambridge di Inggris, mengatakan kepada Science Media Centre di London:

“Pekerjaan ini datang sebagai pengingat yang bermanfaat bahwa kita secara terus-menerus menghadapi risiko munculnya patogen zoonosis baru dan bahwa hewan ternak, yang dengannya manusia memiliki kontak lebih besar daripada dengan satwa liar, dapat bertindak sebagai sumber virus pandemi yang penting.”

Dr. Alice Hughes dari Pusat Konservasi Integratif di Kebun Raya Tropis Xishuangbanna di Yunnan, Cina, mencatat bahwa praktik pertanian intensif di Asia mungkin mempromosikan penyebaran virus zoonosis.

“Standar kebersihan dan makanan, termasuk hormon dan steroid di seluruh Asia, kemungkinan menjadi faktor yang berkontribusi terhadap sistem kekebalan tubuh yang terganggu dan potensi virus untuk menyebar,” katanya. “Daging babi dan unggas juga sangat populer di Asia, jadi ada sejumlah besar hewan di wilayah ini.”

Peternakan setengah populasi dunia dari 677,6 juta babi berada di Cina.

Perencanaan ke depan

Dalam makalah mereka, para ilmuwan memperingatkan bahwa vaksin flu yang ada kemungkinan tidak akan melindungi populasi manusia dari G4.

Martha Nelson, ahli biologi evolusi di Pusat Internasional Institut Kesehatan Fogarty, yang mempelajari virus influenza babi, mengatakan bahwa di dunia yang ideal, para ilmuwan akan membuat vaksin G4 sebagai persiapan untuk kemungkinan wabah.

Akan tetapi, melakukan hal ini akan melibatkan dana besar.

Dia mengatakan kepada jurnal Science : “Kita harus waspada tentang ancaman penyakit menular lainnya bahkan ketika COVID sedang berlangsung karena virus tidak mau tahu pada apakah kita sudah memiliki pandemi lain.”

printfriendly button - Flu Babi yang Baru Diidentifikasi dapat Menjadi Pandemi pada Manusia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here