562fb485 c523 4d6f b6a5 6798810a2bc5 1024x759 - Fotosintesis: Apa yang Perlu Diketahui?
Diagram yang menunjukkan proses fotosintesis.

Fotosintesis mungkin merupakan salah satu proses biologis terpenting yang terjadi di planet Bumi kita. Tumbuhan dan beberapa organisme spesifik lainnya menggunakan proses ini untuk mengubah energi Matahari menjadi energi “makanan” yang dapat menopang mereka. 

Namun, tidak hanya jenis bentuk kehidupan tersebut yang bergantung pada fotosintesis – justru sebaliknya, karena seluruh planet bergantung pada kemampuan luar biasa ini. 

Tanpa itu, agak tidak mungkin untuk mempertahankan kehidupan di planet biru kita. Tidak akan ada makanan, tidak ada udara yang dapat bernafas atau sebagian besar makhluk hidup, kecuali bakteri tertentu.

Apa yang Terjadi Saat Fotosintesis? 

Selama proses fotosintesis, tanaman menggunakan energi yang dikumpulkan dari sumber cahaya dan mensintesisnya menjadi bahan organik yang kemudian digunakan sebagai sumber makanan. 

Jelas, sinar matahari bukan satu-satunya hal yang diperlukan tanaman untuk menghasilkan makanan bagi diri mereka sendiri; ada juga air dan karbon dioksida yang ditemukan di udara. 

Menggabungkan tiga bahan pokok, tanaman, mikroorganisme tertentu dan ganggang mampu menghasilkan glukosa yang menopang mereka.

Di antara ketiga komponen tersebut, terkadang sumber air merupakan hal yang sulit ditemukan, tergantung pada lingkungan tempat tanaman itu hidup. Dalam pengertian itu, sebagian besar spesies tanaman memiliki semacam adaptasi untuk menyerap dan menahan air sebanyak yang mereka bisa. 

Jika Anda memikirkan perbedaan mendasar antara tanaman yang biasanya ditemukan di daerah gurun , seperti berbagai kaktus, dan bunga lili yang menyukai kelembapan, Anda dapat langsung mengetahui mengapa kaktus dapat memiliki daun hijau yang subur jika ingin mempertahankan kelembapan secara efektif.

Sejarah Studi Fotosintesis

Pada tahun 1771, seorang ilmuwan Joseph Priestley melakukan eksperimen sederhana yang berdampak signifikan pada studi fotosintesis selanjutnya. 

Setelah meletakkan lilin yang menyala di dalam kandang dan menemukan bahwa lilin itu berhenti menyala (oksigennya habis tetapi dia tidak mengerti hal ini pada saat itu), dia memasukkan batang kecil mint. Setelah beberapa hari, ia menemukan bahwa lilin sekarang dapat menyala kembali karena mint menghasilkan oksigen yang diperlukan.

Delapan tahun kemudian, seorang dokter Jan Ingenhousz dari Belanda , menambahkan eksperimen Joseph Priestley dan membuktikan bahwa agar unsur-unsur yang mendukung pembakaran (oksigen) dilepaskan, tanaman harus hijau dan memiliki akses ke sumber cahaya. 

Namun, baru pada awal abad ke-19, tepatnya tahun 1804, terbukti bahwa jumlah air dan karbon dioksida yang diserap tanaman sama dengan oksigen yang dikeluarkan tanaman. 

Baru pada tahun 1845 konsep sebenarnya dari energi cahaya yang berubah menjadi energi kimia adalah yang mendorong pertumbuhan tanaman.

Pandangan Masa Depan 

Mungkin salah satu hal yang paling menarik untuk keluar dari bidang ini adalah studi fotosintesis buatan. Pada tahun 2015, meniru proses alami, para ilmuwan dapat menggunakan kawat nano untuk menjebak karbon dioksida dari udara dan melepaskannya ke dalam struktur kompleks organisme mikroba yang mampu mengubah gas menjadi bahan bakar melalui proses mengubah cahaya menjadi energi kimia.

Ini benar-benar bidang yang menarik ketika kita mempertimbangkan kebutuhan energi berkelanjutan yang terus meningkat di planet kita. 

Kita hampir kehabisan bahan bakar berbasis karbon dan penyelidikan ilmiah untuk menciptakan cara-cara baru menggunakan proses seperti fotosintesis sangat penting untuk masa depan peradaban kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here