Gaya Hidup Sains & Teknologi

Internet Ditemukan Mampu Mengubah Struktur Dan Fungsi Otak Manusia

Durasi Baca: 2 menit

Penelitian menemukan semakin banyak waktu yang kita habiskan untuk online, akan semakin mengubah fungsi kognitif kita.

Dari mengumpulkan makanan hingga menemukan jodoh, maupun berkomunikasi dengan anggota masyarakat lainnya, banyak aktivitas manusia yang paling mendasar kini sedang dilakukan di dunia maya. Maka tidak mengherankan jika begitu banyak wilayah otak yang terlibat dalam mengkoordinasikan tugas-tugas sehari-hari ini diadaptasi ke mode kehidupan ultra-modern ini. Saat ini, penelitian mengenai dampak internet pada fungsi otak yang masih dalam proses pengembangan, dan tim peneliti internasional telah mengumpulkan ulasan tentang bagaimana  kehidupan digital mengubah pikiran kita.

Muncul dalam jurnal World Psychiatry dan ditulis oleh para ilmuwan dari Universitas Oxford, Universitas Harvard, Universitas Sydney Barat, Universitas Kings, dan Universitas Manchester, ulasan ini mengkaji temuan-temuan dari sejumlah studi pencitraan otak untuk menilai beberapa hipotesis terkemuka mengenai bagaimana internet dapat mempengaruhi otak kita. Meskipun temuan ini tidak dimaksudkan untuk dianggap konklusif, bukti menunjukkan bahwa gaya hidup online mengubah wilayah otak yang terkait dengan perhatian, memori, dan keterampilan sosial.

Sebagai contoh, satu studi utama menemukan bahwa orang yang tidak bisa mengendalikan diri memeriksa ponsel mereka untuk pesan dan pemberitahuan lainnya telah mengurangi materi abu-abu di area tertentu dari korteks prefrontal yang terkait dengan mempertahankan fokus dalam menghadapi gangguan. Sebagai akibatnya, individu-individu ini cenderung melakukan hal yang lebih buruk pada tugas-tugas yang dirancang untuk mengukur perhatian.

Dampak mesin pencari juga menimbulkan spekulasi bahwa kita mungkin mulai terlalu mengandalkan internet sebagai sumber informasi, sehingga merusak kapasitas memori internal kita sendiri . Untuk mendukung hipotesis ini, penulis menunjuk pada sebuah penelitian yang menemukan bahwa orang cenderung menunjukkan daya ingat yang lebih buruk terhadap informasi yang ditemukan online dibandingkan dengan dalam sebuah ensiklopedia. Pemindaian otak menunjukkan bahwa efek ini berkorelasi dengan berkurangnya aktivasi aliran ventral otak – sistem pengambilan memori utama – ketika mengumpulkan informasi secara online.

Temuan semacam itu meningkatkan kemungkinan bahwa pembelajaran online mungkin gagal mengaktifkan daerah otak utama yang diperlukan untuk penyimpanan memori jangka panjang.

Jaringan media sosial juga tampaknya mengubah cara-cara di mana pusat-pusat sosial otak kita bekerja. Misalnya, satu studi menemukan bahwa jumlah teman Facebook seseorang telah menentukan volume materi abu-abu di korteks entorhinal kanan, yang sebelumnya telah dikaitkan dengan kemampuan untuk mengaitkan nama dan wajah.

Efek ini kemungkinan disebabkan oleh fakta bahwa media sosial mendorong orang untuk mempertahankan sejumlah besar koneksi sosial yang lemah, yang membutuhkan peningkatan kemampuan untuk mengaitkan nama ke wajah. Sebelum munculnya media sosial, orang cenderung memiliki hubungan yang lebih dalam dengan jaringan orang yang lebih kecil, dan karena itu memerlukan adaptasi yang berbeda dalam wilayah sosial otak.

Secara keseluruhan, informasi tersebut tidak cukup detail atau tidak konklusif untuk membuat pernyataan definitif mengenai apakah internet itu baik atau buruk bagi otak kita. Yang jelas, semakin banyak waktu yang kita habiskan untuk online, semakin kita mengubah fungsi kognitif kita.

Leave a Reply