Miniticle Sains

Kenapa Kita Menguap?

Selain menyinkronkan waktu tidur atau menghilangkan bahan kimia yang tidak diinginkan, menguap bisa mengatur suhu

Kita semua melakukannya, dan bahkan beberapa hewan juga, disaat kita akan tidur, dan kadang-kadang saat kita bangun. Kita juga melakukannya ketika sedang bosan, dan mungkin tanpa sadar melakukannya saat stres.

Para ilmuwan telah berjuang untuk menjelaskan mengapa kita menguap. Penelitian terbaru menunjukkan beberapa penjelasan.
Salah satu teori di antara para chasmologist — ilmuwan yang mempelajari menguap — adalah bahwa tindakan itu adalah bentuk perilaku sosial. Pandangan bahwa menguap itu bisa menular cukup umum — sekitar separuh dari sejumlah orang yang melihat atau mendengar orang lain menguap, maka dia juga akan menguap.

Christian Hess dari University of Bern di Swiss berpendapat penyebaran yang mudah dari menguap membantu manusia purba belajar untuk menyinkronkan keinginan mereka untuk tidur dan bangun pada saat yang sama, memungkinkan mereka untuk mengoordinasikan kegiatan sehari-hari mereka.

Psikolog Maryland Robert Provine adalah salah seorang chasmologist yang berpikir bahwa menguap mengaktifkan otak kita. Jadi ketika kita mengantuk, menguap membangunkan kita, dan jika kita membutuhkan ketajaman mental untuk mengatasi stres, menguap menyediakannya. Menurut teori ini, menguap bisa merangsang aliran cairan serebrospinal, yang membersihkan zat kimia di otak yang membuat kita mengantuk.

Menguap yang merangsang otak juga memiliki komponen sosial: Provine mengatakan menguap yang menular yang disebabkan oleh stres dapat memberi sinyal kepada anggota kelompok untuk bersiap menghadapi bahaya.

Alih-alih menyinkronkan waktu tidur atau menghilangkan bahan kimia yang tidak diinginkan, menguap bisa mengatur suhu. Itulah teori Andrew Gallup, seorang psikolog di Universitas Negeri New York di Oneonta. Pada dasarnya, dia berkata, “Kita menguap untuk mendinginkan otak kita.” Menguap meningkatkan aliran darah ke otak, memaksa keluar darah hangat yang telah berkumpul di sana. Secara bersamaan, menguap membawa udara dingin ke dalam tubuh melalui mulut dan hidung.

Menurut Gallup, menguap dapat menurunkan suhu di otak sebesar 0,2 derajat Fahrenheit. Menguap beberapa kali bisa menurunkan suhu otak setengah derajat lebih.

Berangkat dari teori ini, Gallup dan beberapa ilmuwan di Wina menguji kejadian penularan menguap pada suhu yang berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa menguap menular paling sering terjadi ketika suhu luar tubuh berada di “jendela termal” sekitar 68 derajat Fahrenheit (20 derajat Celsius). Menguap berkurang ketika suhu luar dan suhu tubuh berbeda tipis, atau ketika suhu terlalu dingin di luar tubuh.