Armada mobil tanpa pengemudi yang bekerja bersama untuk menjaga lalu lintas tetap lancar dapat meningkatkan arus lalu lintas keseluruhan setidaknya 35 persen, begitulah hasil studi para peneliti menunjukkan.

Para peneliti, dari University of Cambridge, memprogram armada kecil mobil robot mini untuk berkendara di multi jalur dan mengamati bagaimana arus lalu lintas berubah ketika salah satu mobil berhenti.

Ketika mobil tidak dikemudikan secara kooperatif, setiap mobil di belakang mobil yang berhenti harus berhenti atau memperlambat dan menunggu celah di lalu lintas, seperti yang umumnya terjadi di jalan raya. Antrian cepat terbentuk di belakang mobil yang berhenti dan arus lalu lintas keseluruhan melambat.

Selfdriving cars - Kerjasama Mobil Tanpa Pengemudi dapat Mempercepat Lalu Lintas Hingga 35%
Mobil otomatis tanpa pengemudi saling berkomunikasi. Kredit gambar: Express Computer

Namun, ketika mobil-mobil itu saling berkomunikasi dan mengemudi secara kooperatif, begitu satu mobil berhenti di jalur dalam, mobil itu mengirim sinyal ke semua mobil lain. Mobil di jalur luar yang dekat dengan mobil yang berhenti sedikit melambat sehingga mobil di jalur dalam dapat dengan cepat melewati mobil yang berhenti tanpa harus berhenti atau melambat secara signifikan.

Selain itu, ketika seorang pengemudi yang dikendalikan manusia ditempatkan di ‘jalan’ bersama dengan mobil – mobil otomatis, dan bergerak di trek dengan cara yang agresif, mobil-mobil lain mampu memberi jalan untuk menghindari pengemudi yang agresif, sehingga meningkatkan keselamatan.

Hasilnya studi ini dipresentasikan di Konferensi Internasional tentang Robotika dan Otomasi (ICRA) di Montréal, penemuan ini akan berguna untuk mempelajari bagaimana mobil otomatis dapat berkomunikasi satu sama lain, dan dengan mobil yang dikendalikan oleh pengemudi manusia, di jalan raya, di masa depan.

Jika produsen otomotif semuanya mengembangkan mobil otomatis dengan perangkat lunak mereka sendiri, mobil-mobil itu semuanya akan perlu berkomunikasi satu sama lain secara efektif,” kata rekan penulis Nicholas Hyldmar, seorang mahasiswa sarjana di Downing College, yang merancang banyak perangkat keras untuk percobaan.

Kedua siswa menyelesaikan pekerjaan sebagai bagian dari proyek penelitian sarjana di musim panas 2018, di lab Dr. Amanda Prorok dari Departemen Ilmu Komputer dan Teknologi Cambridge.

Dimulai dengan model skala murah dari kendaraan yang tersedia secara komersial dengan sistem kemudi yang realistis, para peneliti Cambridge mengadaptasi mobil dengan sensor menangkap gerak dan Raspberry Pi, sehingga mobil dapat berkomunikasi melalui wifi.

Mereka kemudian mengadaptasi algoritma pengubahan jalur untuk mobil otomatis untuk bekerja dengan armada mobil. Algoritma asli memutuskan kapan sebuah mobil harus berganti jalur, berdasarkan apakah aman untuk melakukannya dan apakah mengganti jalur akan membantu mobil bergerak melalui lalu lintas lebih cepat. Algoritma yang diadaptasi memungkinkan mobil bergerak lebih dekat ketika mengganti jalur dan menambahkan faktor keamanan untuk mencegah tabrakan saat kecepatan rendah. Algoritma yangd diadaptasi ini memungkinkan mobil untuk mendeteksi mobil yang diproyeksikan di depannya dan membuat ruang.

Mereka kemudian menguji armada otomatis dalam mode mengemudi ‘egosentris’ dan ‘kooperatif’, menggunakan perilaku mengemudi yang normal dan agresif, dan mengamati bagaimana armada bereaksi terhadap mobil yang berhenti. Dalam mode normal, mengemudi kooperatif memperlancar arus lalu lintas sebesar 35% dibandingkan dengan mengemudi egosentris, sedangkan untuk mengemudi agresif, peningkatannya adalah 45%. Para peneliti kemudian menguji bagaimana armada otomatis bereaksi terhadap satu mobil yang dikendalikan oleh manusia melalui joystick.

Di masa depan, para peneliti berencana untuk menggunakan armada untuk menguji sistem multi-mobil dalam skenario yang lebih kompleks termasuk jalan dengan lebih banyak jalur, persimpangan dan berbagai jenis kendaraan.

ARTIKEL TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here