Sains & Teknologi

Komunikasi Antar Otak Manusia Sekarang Bisa Dilakukan

Antusiasme untuk pengembangan komunikasi otak-ke-otak langsung telah lama dipegang oleh para futuris dan penggemar militer. Meskipun dulunya hanya mimpi sci-fi, ternyata cepat menjadi kenyataan.

Dalam sebuah studi baru, para peneliti yang dipimpin oleh ilmuwan saraf Miguel Nicolelis berhasil menghubungkan aktivitas otak dari sebuah jaringan kecil manusia. Untuk melakukannya, mereka menempatkan tiga orang di ruang yang terpisah dengan tujuan agar mereka secara bersama-sama mengorientasikan satu blok untuk mengisi celah di antara blok-blok lain dalam video game menggunakan aktivitas otak saja.

Sementara dua orang bertindak sebagai “pengirim” (mampu melihat celah dan dengan demikian mengetahui cara mengisinya), orang ketiga bertindak sebagai ‘penerima’, dan dibutakan dari melihat celah, sehingga harus hanya mengandalkan instruksi dari pengirim (Jiang: 2019). 

Sepanjang latihan, kedua pengirim dilengkapi dengan electroencephalographs (EEGs) untuk merekam aktivitas otak mereka. Untuk menyampaikan instruksi untuk memutar blok, mereka fokus pada lampu yang berkedip pada frekuensi tinggi, sedangkan untuk memberi sinyal agar tidak memutar blok, mereka fokus pada lampu yang berkedip pada frekuensi rendah. 

Aktivitas otak ini kemudian dikirim ke penerima melalui pulsa magnetik dari perangkat stimulasi magnetik transkranial (TMS). Jika pengirim memberi sinyal penerima untuk memutar blok, pulsa magnetik ini akan menyebabkan mereka melihat kilatan cahaya. Saat tidak melihat kilatan cahaya, penerima akan tahu untuk tidak memutar blok (ibid.). 

Secara keseluruhan, tes ini dilakukan pada lima kelompok tiga, dengan masing-masing rata-rata mencapai akurasi lebih dari 80% dalam menyelesaikan tugas. Penelitian yang dikenal sebagai “Brain Net” pada jaringan otak ini muncul setelah penelitian sebelumnya yang dilakukan pada hewan laboratorium. Sebelum bekerja pada manusia, tim Nicolelis telah berhasil menghubungkan beberapa otak primata bersama-sama, serta otak tikus (Martone: 2019).

Studi baru ini adalah yang pertama di mana para peneliti dapat secara non-invasif menghubungkan berbagai otak manusia. Sejauh ini hanya untuk pengambilan keputusan biner, penulis menyarankan bahwa fungsional magnetic resonance imaging (fMRI) juga dapat digunakan untuk meningkatkan jumlah informasi yang dapat ditransmisikan pengirim, membuat komunikasi otak langsung lebih kompleks. Mereka juga menyarankan bahwa TMS dapat dikirim ke daerah otak tertentu untuk membawa lebih banyak kesadaran ke konten semantik tertentu di otak penerima. 

Sumber

Jiang, Linxing: Nature

Martone, Robert: Scientific American