Sains & Teknologi

Peluang Obat-Obat Baru Yang Berasal Dari Samudra

Durasi Baca: 2 menit

Dalam usaha meningkatkan kesehatan manusia, para peneliti mulai mengalihkan perhatiannya ke samudra karena mereka mempercayai bahwa dasar laut samudra mengandung zat-zat kimia alami yang dapat di gunakan untuk melawan penyakit.

Lautan mencakup lebih dari dua pertiga Bumi. Seperti kata pepatah, kita tahu lebih banyak tentang permukaan bulan daripada kita tahu tentang dasar lautan.

Mengingat luasnya lautan bumi yang belum dimanfaatkan, merupakan hal yang masuk akal untuk menyelami kedalaman laut dan menelitinya untuk mencari pengobatan terbaru dan inovatif.

Mengapa perlu mencari obat baru dari dasar lautan?

Tumbuhan, hewan, dan mikroba laut menghasilkan senyawa kimia yang berpotensi sebagai obat-obatan. Senyawa kimia ini merupakan “Metabolit sekunder” yang tidak dibutuhkan oleh organisme laut untuk proses metabolisme dasar atau primer, namun diyakini bermanfaat dalam evolusi organisme laut. Selain itu, organisme laut cenderung memiliki sistem kekebalan tubuh yang alami dan beberapa hidup di habitat yang penuh sesak, seperti terumbu karang, di mana mempertahankan diri merupakan hal yang tidak mudah untuk dilakukan.

Baca juga:  Seekor Ikan Paus Terdampar Dalam Hutan Amazon! Kok Bisa?

Senyawa-senyawa kimia yang selama ini organisme laut gunakan untuk berevolusi sehingga mereka mampu mempertahankan diri mungkin juga berguna bagi manusia untuk melindungi dirinya dan melawan berbagai penyakit.

Penelitian untuk menemukan obat-obat baru dari laut bukanlah hal yang baru. Bukti pertama manusia menggunakan obat-obatan dari laut berasal dari Tiongkok pada tahun 2953 SM dalam pemerintahan kaisar Fu Hsi, Pada masa ini ada pajak atas keuntungan yang berasal dari obat-obatan yang berasal dari ikan.

Pada tahun 1950-an, seorang ahli kimia organik bernama Werner Bergmann mengisolasi sejumlah nukleosida dari spesies spons Karibia yang disebut Cryptotethya crypta. Bahan kimia ini mengilhami penciptaan obat generasi baru, dengan para ilmuwan memperoleh dua obat yang disebut Ara-A dan Ara-C dari nukleosida ini. Dokter menggunakan Ara-A untuk mengobati penyakit herpes dan Ara-C untuk mengobati leukemia myeloid akut dan limfoma non-Hodgkin.

Baca juga:  Eksplorasi Laut Dalam Terbantu dengan Robot dan Kecerdasan Buatan

Salah satu yang obat paling baru yang ditemukan dari laut adalah Ziconotide. Senyawa ini dihasilkan dari sintetik racun siput laut dan di klaim memiliki efek yang sama dengan morfin untuk mengurangi nyeri namun tidak menimbulkan ketagihan. Ziconotide biasanya digunakan untuk mengobati nyeri kronis yang dihasilkan dari kondisi seperti kanker, stadium 3, HIV, dan gangguan neurologis tertentu. Namun Zikonotida hanya berfungsi jika dimaksukkan langsung ke cairan tulang belakang (intratekal), dan hanya digunakan ketika terapi lain gagal atau tidak dapat dilakukan.

Jadi tidaklah heran jika selama beberapa tahun terakhir para penelliti sangat tertarik untuk mencari sumber obat-obat terbaru dari laut/samudra.

Leave a Reply