Sains & Teknologi

Penemuan Baru, Karbon Dioksida di Atmosfer Berhasil Dirubah Kembali Jadi Batubara !

Durasi Baca: 2 menit

Manfaat tambahan dari proses ini adalah karbon dapat menahan muatan listrik, menjadi super kapasitor, dan berpotensi sebagai komponen dalam kendaraan masa depan.

Para peneliti di Royal Melbourne Institute of Technology telah menemukan cara yang murah dan efisien untuk mengubah karbon dioksida di atmosfer menjadi partikel karbon padat. Teknologi penangkapan karbon baru ini bisa menjadi kunci untuk mengurangi jumlah gas rumah kaca berbahaya ini di atmosfer kita.

Para peneliti mengompresi gas CO2 ke dalam cairan, dan kemudian menyuntikkannya ke bawah tanah. Melakukan hal ini merupakan tantangan besar, karena suatu saat ruang penyimpanan bawah tanah ini bisa bocor .

Baca juga:  Perubahan Iklim Mempercepat Laju Pertumbuhan Pohon-Pohon Tua

Seperti yang dilaporkan dalam Nature Communications, sebuah upaya penyempurnaan telah dilakukan, sehingga membuat sistem ini berkelanjutan dengan mencegah kebocoran yang tidak diinginkan. Rancangan ini dapat diterapkan dalam skala besar, dan para peneliti telah mampu menyelesaikan masalah sebelumnya, yaitu saat mencoba mengubah karbon dioksida menjadi batubara.

“Meskipun kita tidak dapat memutar balikkan waktu, mengubah karbon dioksida kembali menjadi batubara dan menguburnya kembali di tanah adalah seperti memutar kembali jam emisi,” kata Dr Torben Daeneke dalam sebuah pernyataan . “Sampai saat ini, CO 2 hanya dapat diubah menjadi materi padat dengan suhu yang sangat tinggi, sehingga tidak dapat digunakan secara industri.

Baca juga:  Militer Penghasil Emisi Karbon Terbesar di Dunia adalah Militer AS

Dengan menggunakan sistem ini, suhu yang tinggi tidak diperlukan, karena logam cair digunakan sebagai katalis, kami telah menunjukkan kemungkinan untuk mengubah gas kembali menjadi karbon pada suhu kamar, dalam proses yang efisien dan terukur. “

Tim menggunakan paduan cair yang terbuat dari galium, indium, timah, dan cerium. Logam cair disimpan dalam tabung gelas dengan kawat meliliti tabung. Sejumlah air ditambahkan dalam tabung gelas. Lalu CO 2 murni disalurkan ke dalam tabung gelas, sementara listrik mengaliri kawat. Tim peneliti kemudian menyaksikan pembentukan serpihan karbon di permukaan alloy. Serpihan ini bisa dihilangkan untuk memungkinkan penangkapan karbon terus menerus.

Baca juga:  200 Ribu Spesies Virus Ternyata Berada di Laut!

Satu-satunya produk sampingan dari proses ini adalah serpihan karbon dan oksigen murni. Karbon hanya bisa dikubur kembali di tanah atau digunakan untuk menghasilkan bahan serat karbon, misalnya.

“Manfaat tambahan dari proses ini adalah karbon dapat menahan muatan listrik, menjadi super kapasitor, sehingga berpotensi digunakan sebagai komponen dalam kendaraan masa depan,” kata penulis utama Dr Dorna Esrafilzadeh.

Penelitian ini adalah langkah realistis pertama guna menyimpan karbon di atmosfer dalam bentuk padat. Dan itu sangat dibutuhkan. Sejak Revolusi Industri, manusia telah menyumbang lebih dari 1.300 miliar ton CO 2  ke atmosfer, sekitar sepertiganya telah dilepaskan sejak tahun 2000.

    Leave a Reply