Sains & Teknologi

Perubahan Iklim Memicu Penyakit pada Buah Pisang

Durasi Baca: 2 menit

Perubahan iklim sekarang mengambil pisang kita.

Kita mungkin tidak sadar, tetapi pisang saat ini sedang mengalami krisis serius – dan ini bahkan bukan yang pertama kalinya. Selama 1950-an, wabah penyakit jamur yang disebut penyakit Panama pada dasarnya memusnahkan produksi pisang komersial Gros Michel , yang pada saat itu, merupakan kultivar pisang yang dominan. Kultivar adalah sekelompok tumbuhan yang telah dipilih/diseleksi untuk suatu atau beberapa ciri tertentu yang khas dan dapat dibedakan secara jelas dari kelompok lainnya, serta tetap mempertahankan ciri-ciri khas ini jika diperbanyak dengan cara tertentu.
Ini menyebabkan masalah besar bagi petani, memaksa mereka untuk beralih ke berbagai jenis pisang yang lebih tahan terhadap penyakit, tetapi dengan cita rasa kurang lezat atau dengan hasil yang lebih sedikit. Ya, pisang kita makan sekarang tidak selezat dibanding pisang tahun 50-an.

Baca juga:  Produksi Pangan Global Dilaporkan Sudah Terdampak Perubahan Iklim

Saat ini, varietas pisang yang paling umum adalah pisang Cavendish, tetapi sekarang juga terancam oleh beberapa penyakit jamur . Penyakit Black Sigatoka, yang muncul dari Asia pada akhir abad ke-20 baru-baru ini menginvasi di daerah penghasil pisang di Amerika Latin dan Karibia. Sekarang, dalam sebuah studi baru, para peneliti menemukan bahwa perubahan kondisi lingkungan yang disebabkan oleh perubahan iklim mendukung perkembangan dan penyebaran penyakit ini. Sejak 1960-an, kenaikan suhu dan tingkat kelembaban telah meningkatkan risiko Black Sigatoka lebih dari 44%.

“Black Sigatoka disebabkan oleh jamur (Pseudocercospora fijiensis) yang siklus hidupnya sangat ditentukan oleh cuaca dan iklim mikro,” kata Dr. Daniel Bebber, dari University of Exeter. Tidak semua area terekspos secara merata, lanjutnya.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan iklim telah membuat suhu memicu perkecambahan dan pertumbuhan spora, dan membuat tanaman lebih basah, meningkatkan risiko infeksi Black Sigatoka di banyak daerah penghasil pisang di Amerika Latin. Meskipun secara keseluruhan terjadi peningkatan risiko Black Sigatoka di daerah yang kami teliti, kondisi yang lebih kering di beberapa bagian Meksiko dan Amerika Tengah mengurangi risiko infeksi, ”tambahnya.

Perubahan iklim telah meningkatkan risiko penyakit jamur yang merusak tanaman pisang, penelitian baru menunjukkan. Kredit: Dan Bebber.

Jamur menyebar melalui spora udara, menginfeksi pisang dan menghancurkan hingga 80% buah yang terinfeksi. Penyakit ini sekarang ditemukan di sebelah utara Florida dan pada dasarnya ada di mana-mana di semua daerah di mana pisang dibudidayakan secara besar-besaran. Perawatan yang ada mahal dan tidak selalu efektif. Secara realistis, sebagian besar produsen kecil hampir tidak mampu menggunakan fungisida.

Baca juga:  Sistem Listrik Ini Mampu Memangkas 1% Emisi CO2 Dunia dalam Produksi Hidrogen

Penyebaran penyakit di seluruh dunia berlangsung dengan cepat, dan karena pisang adalah tanaman keempat yang paling banyak dibudidayakan di dunia, sehingga pisang merupakan bagian penting dari asupan kalori pada banyak populasi, sehingga ini merupakan masalah serius. Studi ini tidak menilai bagaimana perubahan iklim akan mempengaruhi pisang di masa depan, tetapi sangat mungkin bahwa dalam waktu dekat, kita mungkin perlu menemukan kultivar pisang lainnya.

Studi Dampak Perubahan Iklim terhadap perkembangan infeksi penyakit Black Sigatoka pada pisang. Sumber: Royal Society

Studi ini diterbitkan dalam Philosophical Transactions of the Royal Society B(2019)

    Leave a Reply