Sains & Teknologi

Peta Global Dibuat untuk Memahami Perubahan Hutan

Durasi Baca: 2 menit

Sebuah kolaborasi internasional dari ratusan ilmuwan — sebagian dipimpin oleh Laboratorium Advanced Computer Computing dan Artificial Intelligence (FACAI) di Departemen Kehutanan dan Sumber Daya Alam Purdue — telah mengembangkan peta simbiosis pohon global pertama di dunia. Peta ini adalah kunci untuk memahami bagaimana hutan bertransisi dan peran iklim dalam perubahan ini.

Temuan ini, dilaporkan hari ini di jurnal Nature, berasal dari Global Forest Biodiversity Initiative (GFBI), sebuah konsorsium ilmuwan dan praktisi hutan yang mana FACAI Lab menjadi pusatnya.

Laboratorium FACAI Purdue menggunakan kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin untuk mempelajari manajemen sumber daya hutan global, regional dan lokal dan konservasi keanekaragaman hayati. Untuk penelitian ini, FACAI mengumpulkan data kelimpahan spesies dari 55 juta catatan pohon pada 1,2 juta plot sampel hutan yang mencakup 110 negara. Organisasi data merupakan bagian integral dari pengembangan peta global.


 Peta global prediksi kondisi simbiosis pohon-hutan. Sumber: Nature

Peta mengidentifikasi jenis-jenis jamur mikoriza yang terkait dengan pohon – pohon di hutan tertentu. Mikoriza adalah bentuk simbiosis antara cendawan (fungi) dengan tumbuhan tingkat tinggi (tumbuhan berpembuluh, Tracheophyta), khususnya pada sistem perakaran. Jamur ini melekat pada akar pohon, memperluas kemampuan pohon untuk mencapai air dan nutrisi sementara pohon menyediakan karbon yang diperlukan untuk kelangsungan hidup jamur. Dua jenis mikoriza yang paling umum adalah arbuskular, yang tumbuh di dalam jaringan akar pohon dan berhubungan dengan spesies pohon seperti maple, abu dan poplar kuning, dan mikoriza ectomycorrhizal, yang hidup di bagian luar akar dan berhubungan dengan spesies pohon seperti seperti pinus, ek, hickory dan beech.

Hubungan tersebut penting karena mikoriza memengaruhi kemampuan pohon untuk mengakses unsur hara, menyerap karbon, dan tahan terhadap dampak perubahan iklim.

Baca juga:  Printer 3D Terbaru dengan Fitur Penglihatan dan Kecerdasan Buatan

Para penulis menemukan bahwa iklim adalah faktor paling signifikan yang mempengaruhi distribusi mikoriza. Iklim yang hangat mengurangi jumlah spesies pohon ektomikoriza sebanyak 10 persen. Perubahan itu mengubah jejak kaki ekologis dan ekonomi hutan, terutama di sepanjang eko-iklim boreal, daerah perbatasan antara hutan yang lebih dingin dan lebih hangat. Kehilangan spesies ektomikoriza memiliki implikasi untuk perubahan iklim karena jamur ini meningkatkan jumlah karbon yang tersimpan di tanah.

    Leave a Reply