Sains & Teknologi

Sekarang Ponsel Bisa Menjadi “Robot” untuk Melakukan Rutinitas Kerja

Jika ada pekerja pabrik yang dapat memprogram robot berbiaya rendah, maka lebih banyak pabrik yang sebenarnya dapat menggunakan robot untuk meningkatkan produktivitas pekerja.

Ini terjadi karena pekerja akan dapat beralih untuk mengambil tugas-tugas yang lebih bervariasi dan lebih sulit, sehingga pabrik dapat menghasilkan variasi produk yang lebih besar.

Desain antarmuka utama sistem V.Ra (atas). Daftar referensi ikon untuk fungsi interaktif (bawah). Kredit: Purdue University

Itulah ide di balik aplikasi prototipe smartphone yang telah dikembangkan oleh peneliti Universitas Purdue yang memungkinkan pengguna untuk dengan mudah memprogram robot apa pun untuk melakukan rutinitas biasa, seperti mengambil bagian dari satu area dan mengirimkannya ke yang lain.

Pengaturan ini juga bisa menangani pekerjaan rumah tangga, misalnya mennyiram tanaman dan sebagainya.

Peneliti Purdue mempresentasikan penelitian mereka pada aplikasi tertanam pada ponsel, yang disebut VRa, di San Diego. Platform ini dipatenkan melalui Purdue Research Foundation Office of Technology Commercialization, dengan rencana untuk membuatnya tersedia untuk penggunaan komersial.

Sistem V.Ra. Kredit: Purdue University

“Perusahaan kecil tidak mampu membeli pemrogram perangkat lunak atau mobile robot yang mahal ,” kata Karthik Ramani, Profesor Teknik Mesin Donald W. Feddersen dari Purdue. “Kami telah berhasil sampai ke tempat mereka dapat melakukan pemrograman sendiri, secara dramatis menurunkan biaya pembuatan dan pemrograman robot seluler,” katanya.

Kredit: Universitas Purdue

Menggunakan augmented reality, aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk berjalan di mana robot harus pergi untuk melakukan tugasnya, atau menggambar alur kerjanya langsung ke ruang nyata. Augmented Reality adalah  teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi dan ataupun tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata.  Aplikasi ini menawarkan opsi untuk bagaimana tugas-tugas itu dapat dilakukan, seperti durasi waktu, pengulangan, atau setelah mesin melakukan tugasnya.

Setelah pemrograman, pengguna memasukkan ponsel ke docking yang terpasang pada robot. Ponsel harus disesuaikan dengan jenis robot yang digunakan untuk melakukan tugas-tugas, docking dapat terhubung secara nirkabel ke kontrol dasar dan motor robot.

Ponsel adalah mata dan otak untuk robot, mengendalikan navigasi dan tugasnya.

Untuk membuat robot menjalankan tugas yang melibatkan interaksi secara nirkabel dengan objek atau mesin lain, pengguna hanya memindai kode QR objek atau mesin itu saat pemrograman, secara efektif menciptakan jaringan yang disebut “Internet of Things.” Setelah docking, ponsel (sebagai robot) menggunakan informasi dari kode QR untuk bekerja dengan objek.

Para peneliti menunjukkan ini dengan robot menyiram tanaman, menyedot debu dan mengangkut benda. Pengguna juga dapat memonitor robot dari jarak jauh melalui aplikasi dan membuatnya memulai atau menghentikan tugas, seperti mengisi baterai atau memulai pekerjaan pencetakan 3-D. Aplikasi ini menyediakan opsi untuk merekam video secara otomatis saat ponsel docking, sehingga pengguna dapat memutarnya dan mengevaluasi alur kerja.

Laboratorium Ramani memungkinkan aplikasi mengetahui cara menavigasi dan berinteraksi dengan lingkungannya sesuai dengan apa yang ditentukan pengguna. Jenis-jenis algoritma ini juga digunakan dalam mobil dan drone yang dapat mengemudi sendiri.

“Kami tidak meremehkan manusia. Tujuan kami adalah agar semua orang dapat memprogram robot, dan agar manusia dan robot berkolaborasi satu sama lain,” kata Ramani.

Sejak membuat prototipe, lab Ramani telah mengujinya dalam pengaturan pabrik nyata untuk mengevaluasi aplikasi yang digerakkan pengguna. Pada akhirnya, aplikasi ini merupakan langkah menuju pembuatan pabrik “pintar” di masa depan, yang didukung oleh kecerdasan buatan dan augmented reality, yang melengkapi dan meningkatkan produktivitas pekerja alih-alih menggantikannya, kata Ramani.