Gaya Hidup Sains & Teknologi

Studi: Terlalu Percaya Diri dapat Digunakan untuk Membujuk atau Menipu Orang Lain

Sepasang peneliti, satu dari University of Munich, yang lain University of Amsterdam telah menemukan bahwa orang mungkin berperilaku terlalu percaya diri (overconfidence) menjadi cara untuk membujuk atau menipu orang lain. Dalam makalah mereka yang diterbitkan dalam jurnal Nature Human Behavior, Peter Schwardmann dan Joël van der Weele menggambarkan percobaan dua tahap yang mereka lakukan dengan sukarelawan dan melaporkan yang mereka temukan.

Para ilmuwan yang mempelajari perilaku manusia telah menemukan melalui berbagai penelitian bahwa kebanyakan orang cenderung menilai kemampuan atau karakteristik mereka sendiri. Kebanyakan orang berpikir mereka lebih pintar daripada yang sebenarnya, misalnya. Dan kebanyakan orang tampaknya berpikir bahwa mereka adalah pengemudi yang lebih baik daripada yang lainnya di jalan. Tetapi mengapa ini terjadi? Dalam upaya baru ini, Schwardmann dan van der Weele berusaha mencari tahu apakah mungkin ada keuntungan menjadi terlalu percaya diri — untuk itu, mereka melakukan percobaan dua tahap yang dirancang untuk mengungkapkan kemungkinan keuntungan yang didapatkan.

Pada bagian pertama percobaan, sekelompok relawan diberi tes kecerdasan ; separuh diberi tahu bahwa mereka akan menerima € 15 jika mereka dapat meyakinkan orang lain bahwa mereka mengerjakan tes dengan sangat baik. Setelah mengikuti tes, semua relawan diberikan hasilnya dan diminta untuk meyakinkan orang lain bahwa mereka telah melakukannya dengan baik. Tanpa diketahui para relawan, tidak semua diberi skor aktual oleh para peneliti. Beberapa diberi hasil yang lebih tinggi, sementara yang lain menerima skor yang lebih rendah. Para peneliti kemudian mempelajari perilaku para sukarelawan ketika mereka berusaha meyakinkan orang lain yang mengejek, bahwa mereka mendapat nilai tinggi dalam ujian.

Studi Deception and self-deception. Sumber: Nature Human Behavior,

Para peneliti melaporkan bahwa para sukarelawan yang diberi tahu bahwa mereka mendapat nilai bagus dalam tes tersebut melaporkan kepercayaan yang lebih tinggi kepada para peneliti daripada mereka yang diberi tahu bahwa mereka mendapat nilai buruk. Itulah hasil pertama. Bagian kedua dari penelitian ini dirancang untuk mencari tahu apakah terlalu percaya diri memberi orang keuntungan ketika berhadapan dengan orang lain. Ini melibatkan mempelajari perilaku para sukarelawan ketika mereka berusaha membujuk orang lain bahwa mereka telah melakukan tes dengan baik. Para peneliti melaporkan bahwa mereka yang diberi tahu mendapat nilai tinggi dalam ujian, terlepas apakah benar atau tidak, lebih mampu meyakinkan orang lain bahwa mereka memiliki nilai tinggi — contoh dari keuntungan karena terlalu percaya diri