Sains & Teknologi

Tak Disangka, Tanda-tanda ‘Kepunahan Massal Keenam’ Telah Menghampiri Kita!

Setiap tahun, lebih dari 18 juta hektar hutan menghilang di seluruh dunia. Setara dengan 27 lapangan sepak bola setiap menit.

Di atas adalah ringkasan dari lima kepunahan masal terakhir yang terjadi di Bumi .

Suatu periode waktu dalam sejarah kehidupan di bumi di mana sejumlah besar spesies punah disebut kepunahan massal. Banyak spesies lenyap dalam lima kepunahan massal yang dahsyat ini. Saat ini, 99 persen dari semua spesies yang ada di bumi telah punah.

Umumnya, istilah “kepunahan massal” digambarkan dengan tabrakan asteroid yang menyebabkan punahnya dinosaurus.

Dalam sejarah Bumi, tumbukan asteroid selebar 10 km menyebabkan tsunami di Samudera Atlantik, menimbulkan gempa bumi dan tanah longsor yang sekarang menjadi benua Amerika. Gelombang panas yang membakar Bumi membuat Tyrannosaurus rex dan dinosaurus lainnya mati bersama dengan 75% spesies lainnya di planet ini .

Meskipun belum pasti terjadi, peristiwa kepunahan massal keenam nampaknya sedang menghampiri kita saat ini. Tren negatif yang memuncak secara global sedang terjadi di berbagai bidang, sebut saja lautan yang menjadi lebih panas , deforestasi, dan perubahan iklim, semuanya mendorong populasi hewan untuk punah dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sebuah penelitian pada tahun 2017 menemukan bahwa spesies hewan di seluruh dunia mengalami “pemusnahan biologis” dan “peristiwa kepunahan massal saat ini berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan kebanyakan orang.”

Berikut adalah tanda-tanda bahwa planet ini berada di tengah kepunahan massal keenam, dan mengapa aktivitas manusia adalah yang terutama harus disalahkan.

Sekitar 40% spesies serangga dunia mengalami penurunan jumlah, akibat kematian yang cepat.

Serangga akan punah delapan kali lebih cepat dari mamalia, burung, dan reptil.
Kredit: Pixabay

Sebuah studi 2019 menemukan bahwa jumlah populasi total serangga di planet ini berkurang 2,5% per tahun.

Jika tren itu terus berlanjut, Bumi mungkin tidak memiliki seranggasama sekali pada tahun 2119.

Hal ini menjadi masalah besar , karena serangga seperti lebah, kupu-kupu, dan penyerbuk lainnya melakukan peran penting dalam produksi buah, sayuran, dan kacang. Selain itu, serangga adalah sumber makanan bagi banyak spesies burung, ikan, dan mamalia – beberapa di antaranya dikonsumsi manusia sebagai makanan.

Bumi tampaknya sedang mengalami proses “pemusnahan biologis.” Setengah dari jumlah hewan yang pernah hidup dengan manusia sudah pergi.

Hilangnya spesies penting dari ekosistem lokal akan menyebabkan efek domino.
Kredit: Pixabay.

Sebuah studi tahun 2017 mengamati jumlah semua populasi hewan di planet ini (bukan hanya serangga) dengan mencermati perkembangan 27.600 spesies vertebrata – sekitar setengah dari total keseluruhan yang ada. Mereka menemukan bahwa mereka mengalami penurunan jumlah lebih dari 30%.

Beberapa spesies menghadapi kepunahan total, sementara populasi lainnya akan punah di area tertentu. Penulis penelitian mengatakan kepunahan populasi lokal ini adalah “awal dari kepunahan spesies.”

Jadi, bahkan penurunan populasi hewan yang belum masuk kategori terancam punah memberikan tanda yang mengkhawatirkan.

Lebih dari 26.500 spesies dunia terancam punah, dan jumlah itu diperkirakan akan terus meningkat.

Macan tutul Amur terancam punah. Kredit: Pixabay

Menurut  Daftar Merah dari IUCN (The International Union for Conservation of Nature), lebih dari 27% dari semua spesies yang dievaluasi di planet ini terancam punah. Saat ini, 40% amfibi , 25% mamalia, dan 33% terumbu karang terancam.

IUCN lebih lanjut memperkirakan bahwa ada 99,9% spesies yang terancam punah, dan 67% dari spesies yang terancam punah itu akan hilang dalam 100 tahun ke depan.

Tingkat kepunahan rata-rata
spesies burung, reptil, amfibi, dan mamalia 100 kali lebih cepat di abad terakhir.

Populasi kupu-kupu raja, seperti serangga lainnya, berfluktuasi secara luas. 
Tetapi para ilmuwan mengatakan pemulihan setelah penurunan besar cenderung berdampak kecil, sehingga menunjukkan tren penurunan secara menyeluruh.
Kredit:Pixabay.

Elizabeth Kolbert, penulis buku “The Sixth Extinction,” mengatakan kepada National Geographic bahwa hasil dari penelitian itu mengerikan; itu berarti 75% spesies hewan dapat punah dalam beberapa generasi manusia.

Dalam sekitar 50 tahun, 1.700 spesies amfibi, burung, dan mamalia akan menghadapi risiko kepunahan yang lebih tinggi karena habitat alami mereka menyusut.

Aktivitas manusia seperti pertanian, permukiman, dan pembangunan infrastruktur menyebabkan hilangnya habitat badak hitam. Badak hitam terancam punah.
Kredit:Pixabay

Pada tahun 2070, 1.700 spesies akan kehilangan sekitar 30% hingga 50% dari habitatnya sekarang akibat penggunaan lahan manusia, sebuah studi tahun 2019 mengungkapkan hal ini. Secara khusus, 886 spesies amfibi, 436 spesies burung, dan 376 spesies mamalia juga akan terdampak, dan akibatnya adalah resiko kepunahan lebih lanjut.

Penebangan dan deforestasi hutan hujan Amazon

Foto udara dari sebidang hutan Amazon yang gundul oleh penebang dan petani di dekat kota Novo Progresso, Brasil.  Nacho Doce / Reuters

Sekitar 17% dari Amazon telah hancur dalam lima dekade terakhir, sebagian besar karena ulah manusia menebang vegetasi untuk membuka lahan untuk peternakan, menurut World Wildlife Fund . Sekitar 80% spesies dunia dapat ditemukan di hutan hujan tropis seperti Amazon, termasuk macan tutul Amur yang terancam punah. Bahkan penggundulan hutan di daerah kecil dapat menyebabkan hewan punah, karena beberapa spesies hanya hidup di daerah kecil dan terisolasi.

Setiap tahun, lebih dari 18 juta hektar hutan menghilang di seluruh dunia. Itu setara dengan sekitar 27 lapangan sepak bola setiap menit.

Selain menempatkan hewan dalam risiko, deforestasi menghilangkan tutupan pohon yang membantu menyerap karbon dioksida atmosfer. Pepohonan menangkap gas karbondioksida, yang berkontribusi terhadap pemanasan global, sehingga lebih sedikit pohon berarti lebih banyak CO2 di atmosfer, yang menyebabkan planet memanas.

Dalam 50 tahun ke depan, manusia menyebabkan banyak spesies mamalia punah, yang tak akan pulih selama sekitar 3 juta tahun, satu studi mengatakan.

Gajah Afrika seperti ini sering menjadi korban perburuan gelap dan rentan terhadap kepunahan.

Para ilmuwan di balik penelitian itu, yang diterbitkan pada 2018 , menyimpulkan bahwa setelah kehilangan banyak spesies mamalia, planet kita akan membutuhkan waktu antara 3 juta hingga 5 juta tahun dalam skenario terbaik untuk kembali ke tingkat keanekaragaman hayati yang kita miliki di Bumi saat ini.

Mengembalikan keanekaragaman hayati planet ke keadaan semula sebelum manusia modern berevolusi akan membutuhkan waktu lebih lama – hingga 7 juta tahun .

Spesies asing sebagai pendorong utama kepunahan spesies.


Kerang zebra adalah spesies asing invasif di Great Lakes. ryelixir.org / Garden Flowers and House Plants

Sebuah studi yang diterbitkan Maret 2019, menemukan bahwa spesies asing adalah pendorong utama kepunahan hewan dan tumbuhan. Spesies asing adalah istilah untuk segala jenis hewan, tumbuhan, jamur, atau bakteri yang bukan spesies asli ekosistem. Beberapa bisa invasif, yang berarti mereka membahayakan lingkungan tempat yang mereka datangi.

Banyak spesies asing invasif telah secara tidak sengaja disebarkan oleh manusia. Orang-orang dapat membawa spesies asing bersama mereka dari satu benua, negara, atau wilayah ke tempat lain ketika mereka bepergian. Pengiriman barang dan kargo antar tempat juga dapat berkontribusi pada penyebaran spesies.

Kerang zebra dan kumbang busuk kecokelatan adalah dua contoh spesies invasif di AS.

Studi terbaru menunjukkan bahwa sejak tahun 1500, telah ada 953 kepunahan global. Sekitar sepertiga dari mereka setidaknya dikarenakan dampak spesies asing.

Lautan menyerap banyak panas berlebih karena efek ‘rumah kaca’. Sehingga membunuh spesies laut dan terumbu karang.

Terumbu karang yang memutih di dekat Guam di Samudra Pasifik. 
Sebuah studi tahun 2018 menemukan bahwa wabah pemutihan parah sekarang menghantam karang empat kali lebih sering daripada beberapa dekade yang lalu.
 David Burdick / NOAA / AP

Lautan di planet ini menyerap 93% dari panas ekstra yang terperangkap oleh gas rumah kaca di atmosfer Bumi. Tahun 2018 adalah tahun terpanas di samudera, dan para ilmuwan baru-baru ini menyadari bahwa samudera memanas 40% lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya .

Suhu laut yang lebih tinggi dan pengasaman air menyebabkan karang mengeluarkan ganggang yang hidup di jaringan mereka dan memutih, suatu proses yang dikenal sebagai pemutihan karang.

Akibatnya, terumbu karang – dan ekosistem laut yang didukungnya – menjadi sekarat. Di seluruh dunia, sekitar 50% terumbu dunia telah matiselama 30 tahun terakhir.

Spesies yang hidup di air tawar juga terdampak oleh planet yang memanas.

Subspesies redband yang paling terkenal berada di Sungai Deschutes di Oregon timur. US Fish and Wildlife Service

Sebuah studi tahun 2013 menunjukkan bahwa 82% spesies ikan air tawar asli di California rentan terhadap kepunahan karena perubahan iklim.

Sebagian besar populasi ikan asli diperkirakan akan menurun, dan beberapa di antaranya kemungkinan akan punah, kata para penulis penelitian. Spesies ikan yang membutuhkan air yang lebih dingin dari 20 Celcius untuk berkembang sangat berisiko mati.

Pemanasan lautan juga menyebabkan kenaikan permukaan laut. Air yang naik sudah berdampak pada habitat spesies yang rentan.

Melodi Bramble Cay adalah spesies pertama yang punah karena perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia. The Global Education Project

Air, seperti kebanyakan materi, memuai ketika memanas – jadi air yang lebih hangat membutuhkan lebih banyak ruang. Ini sudah terjadi, permukaan laut global saat ini adalah 13 hingga 20 cm lebih tinggi daripada rata-rata pada tahun 1900, menurut Smithsonian .

Pada bulan Februari 2019, menteri lingkungan hidup Australia secara resmi mendeklarasikan hewan pengerat yang disebut Bramble Cay menjadi spesies pertama yang punah karena perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia – khususnya kenaikan permukaan laut.

Kerabat tikus kecil itu berasal dari sebuah pulau di provinsi Queensland, tetapi wilayah dataran rendahnya hanya 3 meter di atas permukaan laut. Pulau ini semakin dibanjiri oleh air laut selama pasang dan badai, dan banjir air asin itu berdampak pada kehidupan tanaman di pulau itu.

Flora itu memberi hewan itu makanan dan perlindungan, sehingga penurunan flora kemungkinan menyebabkan kematian hewan itu .

Lautan yang memanas menyebabkan pencairan es Arktik dan Antartika, yang selanjutnya berkontribusi pada kenaikan permukaan laut.

Dua penguin Adélie berdiri di atas balok es yang mencair di Antartika timur.
Pauline Askin / Reuters

Di AS, 17% dari semua spesies yang terancam punah dan yang dilindungi, punah karena naiknya laut.

Lapisan es yang mencair bisa menaikkan permukaan laut secara signifikan. Es Antartika mencair hampir enam kali lebih cepat seperti yang terjadi pada 1980-an. Es Greenland mencair empat kali lebih cepat sekarang daripada 16 tahun yang lalu. Menyebabkan hilangnya lebih dari 400 miliar ton es pada tahun 2012 saja.

Dalam skenario terburuk, perairan yang lebih hangat dapat menyebabkan gletser yang menahan lapisan es Antartika dan Greenland runtuh. Itu akan mengirim sejumlah besar es ke lautan, yang berpotensi mengarah pada kenaikan permukaan laut yang cepat di seluruh dunia.

Kenaikan permukaan laut karena perubahan iklim mengancam 233 spesies hewan dan tumbuhan yang dilindungi oleh pemerintah federal di 23 negara pantai di AS, menurut laporan dari Pusat Keanekaragaman Hayati .

Laporan tersebut mencatat bahwa 17% dari semua spesies terancam dan hampir punah di AS rentan terhadap kenaikan permukaan laut dan gelombang badai, termasuk anjing laut biksu Hawaii dan penyu tempayan.

Kepunahan massal sebelumnya datang dengan tanda-tanda peringatan. Indikator-indikator itu sangat mirip dengan apa yang kita lihat sekarang.

Jika pemanasan global terus berlanjut, awan stratocumulus subtropis bisa menghilang, yang akan menaikkan suhu di seluruh planet sebesar 8 derajat Celcius. Pixabay.

Kepunahan massal yang paling dahsyat dalam sejarah planet disebut kepunahan Permian-Trias, atau “Kematian Hebat.” Itu terjadi 252 juta tahun yang lalu, sebelum berkembangnya dinosaurus.

Selama periode Kematian Hebat, sekitar 90% spesies Bumi musnah; kurang dari 5% spesies laut yang selamat, dan hanya sepertiga dari spesies hewan darat yang berhasil, menurut National Geographic . Peristiwa ini jauh lebih dahsyat daripada bencana yang menewaskan dinosaurus sekitar 187 juta tahun kemudian.

Para ilmuwan berpikir kepunahan massal disebabkan oleh pelepasan yang cepat dan masif gas rumah kaca ke atmosfer oleh gunung berapi Siberia , yang dengan cepat menghangatkan planet ini – yang menjadi tanda-tanda peringatan. Faktanya, sebuah studi 2018 mencatat bahwa tanda-tanda awal itu muncul 700.000 tahun sebelum kepunahan.

Masih ada beberapa perdebatan tentang apakah kita benar-benar di ambang kepunahan keenam. Tetapi ada kesepakatan bahwa tanda kepunahan yang kita lihat sekarang adalah kesalahan kita.

Agen Alex Lacerda dari Institut Lingkungan dan Sumber Daya Alam Terbarukan Brasil membawa sampel kayu yang disita di penggergajian ilegal.
 Ricardo Moraes / Reuters

Para ilmuwan masih memperdebatkan apakah Bumi benar-benar berada di ambang kepunahan massal keenam. Ahli paleontologi Smithsonian, Doug Erwin, seorang ahli tentang Kematian Hebat, mengatakan kita belum berada di sana, menurut The Atlantic .

Tapi debat itu mungkin melupakan “hutan untuk pohon.” Seperti yang dikatakan Kolbert kepada National Geographic , “pada saat kami memiliki jawaban pasti untuk pertanyaan itu, mungkin tiga perempat dari semua spesies di Bumi bisa hilang.”

Sudah ada konsensus tentang satu aspek tren kepunahan: Homo sapiens yang harus disalahkan.

Menurut sebuah studi tahun 2014 , tingkat kepunahan saat ini 1.000 kali lebih tinggi daripada jika manusia tidak ada.

Artikel Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *